Rosie O’Donnell Tolak Kontrak Rp1,5 Triliun Demi Jadi Ibu Penuh Waktu
Baca dalam 60 detik
- Rosie O’Donnell meninggalkan acara talk show-nya pada puncak popularitas setelah menyadari kekayaan US$100 juta sudah cukup untuk hidup dan beramal.
- Warner Bros. menawarkan US$100 juta untuk dua tahun tambahan, namun ia menolak karena ingin fokus membesarkan anak-anaknya.
- Keputusan ini mencerminkan pergeseran prioritas dari akumulasi kekayaan menuju keseimbangan hidup dan kontribusi sosial.

Rosie O’Donnell, komedian dan mantan pembawa acara talk show legendaris Amerika Serikat, mengaku menolak tawaran kontrak senilai US$100 juta atau sekitar Rp1,5 triliun dari Warner Bros. pada 2002. Alasannya bukan karena tidak butuh uang, melainkan karena ia merasa sudah memiliki cukup kekayaan untuk menjalani hidup dan membantu sesama.
Dalam wawancara dengan Page Six, perempuan 64 tahun itu mengungkapkan bahwa momen pencerahan datang saat ia mengetahui total asetnya mencapai US$100 juta. “Saat saya mendengar angka itu, saya berpikir, ‘Oke, sekarang saya selesai,’” kenangnya. Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, termasuk rekan-rekan kerjanya yang bertanya-tanya mengapa ia meninggalkan acara yang meraih Emmy Award tersebut.
O’Donnell menjelaskan bahwa ia ingin lebih hadir dalam kehidupan anak-anaknya. “Saya ingin berada di pertandingan softball mereka. Saya ingin hadir di pentas sekolah,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kekayaan yang dimiliki sudah cukup untuk membiayai keluarga, kegiatan filantropi, dan bahkan orang asing yang membutuhkan. Sikap ini kontras dengan budaya mengejar kekayaan tanpa batas yang kerap mewarnai industri hiburan.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di tengah hiruk-pikuk industri hiburan Indonesia, di mana banyak figur publik terus mengejar popularitas dan pendapatan tanpa batas. Keputusan O’Donnell menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak selalu diukur dari akumulasi materi, melainkan dari kemampuan untuk memilih prioritas hidup. “Saya tidak mengerti para miliarder. Saya tidak paham bagaimana orang hanya mengukur hidup dari uang, bukan dari apa yang bisa mereka lakukan untuk orang lain,” katanya.
Saat ini, O’Donnell tengah menjalani pertunjukan Broadway Common Knowledge yang bersifat autobiografis. Pertunjukan itu mengeksplorasi masa kecilnya, termasuk kehilangan ibu akibat kanker payudara saat ia berusia 10 tahun, serta pengalamannya membesarkan anak bungsunya, Clay, yang mengidap autisme. Ia mengaku bahwa mengasuh Clay memberikan perspektif baru tentang pengasuhan, berbeda dengan saat ia membesarkan anak-anaknya yang lebih tua di tengah popularitas tinggi.
Keputusan O’Donnell menolak kontrak fantastis demi keluarga mengundang pertanyaan: apakah para selebritas Indonesia berani melakukan hal serupa? Di tengah tekanan industri yang kerap mengorbankan waktu bersama keluarga demi popularitas, langkah O’Donnell bisa menjadi bahan refleksi. Mungkin, seperti yang ia katakan, “Jika saya pikir saya butuh lebih banyak, ada yang salah dengan diri saya.”



