Merlier Gagap di 500 Meter Terakhir, Lalu Menyalip Semua: Dua Kemenangan Beruntun di Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Tim Merlier memenangi etape kedelapan Tour de France secara beruntun setelah sprint dramatis di Bergerac.
- Pembalap Belgia itu sempat terperangkap di posisi buruk 500 meter sebelum finis, namun akselerasi jarak jauh mengantarnya ke garis pertama.
- Kemenangan ini mendekatkan Merlier ke jersey hijau, sementara Tadej Pogacar tetap aman di puncak klasemen umum.

Tim Merlier membuktikan diri sebagai sprinter paling panas di Tour de France 2024 setelah memenangi etape kedelapan secara beruntun, Sabtu (6/7). Pembalap asal Belgia itu memanfaatkan momen krusial di 200 meter terakhir untuk menyalip semua rivalnya di Bergerac, Prancis.
Etape sepanjang 180,4 km dari Perigueux ke Bergerac ini merupakan panggung bagi para sprinter. Meski sempat terlibat dalam tiga kali breakaway, grup utama berhasil menyusul di kilometer akhir. Saat memasuki 500 meter terakhir, Merlier tampak kehilangan posisi dan terhimpit di tengah peleton. Namun, dengan kecepatan luar biasa, ia melesat dari luar jalur dan memimpin di 200 meter terakhir.
Biniam Girmay, yang sudah mengoleksi tiga kemenangan di Tour tahun ini, harus puas di posisi kedua. Sementara Olav Kooij, peraih etape pertama pada Rabu lalu, finis ketiga. "Jika Anda menang satu, Anda bisa menang dua. Saya senang," ujar Merlier, yang kini memiliki total lima kemenangan etape Tour sepanjang kariernya.
Kemenangan ini membuat Merlier semakin dekat dengan jersey hijau (klasemen poin) yang saat ini dipimpin Mads Pedersen. Dengan dua kemenangan dari tiga etape sprint, Merlier optimistis bisa merebut mahkota sprinter. "Tiga etape sprint, saya menang dua โ ini Tour de France saya," tambahnya.
Di sisi lain, Tadej Pogacar masih kokoh di puncak klasemen umum dengan waktu 28 jam 49 menit 7 detik. Jonas Vingegaard tertinggal 2 menit 42 detik di posisi kedua. Etape kedelapan yang relatif datar tidak memberikan ancaman bagi pemegang yellow jersey.
Etape kesembilan yang akan digelar Minggu (7/7) terpaksa dipangkas dari 185,5 km menjadi 155,5 km akibat gelombang panas ekstrem di wilayah Correze. Keputusan ini diambil panitia demi keselamatan pembalap. Rute baru dimulai dari Malemort menuju Ussel, melewati medan yang lebih menantang dengan beberapa tanjakan.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, dominasi sprinter Eropa seperti Merlier dan Girmay menunjukkan betapa ketatnya persaingan di Tour de France. Meski belum ada pembalap Asia yang bersinar di ajang ini, performa konsisten Girmay asal Eritrea membuktikan bahwa Afrika mulai diperhitungkan. Mampukah Merlier mempertahankan momentumnya di etape pegunungan yang akan datang?



