Rudal dan Drone Rusia Hantam Ukraina: Enam Tewas, Puluhan Luka, Kekurangan Amunisi Patriot
Baca dalam 60 detik
- Serangan gabungan rudal dan drone Rusia pada Sabtu (11/7) menewaskan enam orang dan melukai puluhan lainnya di Sumy, Odesa, Kharkiv, dan Kyiv.
- Ukraina kesulitan menembak jatuh rudal balistik karena stok amunisi Patriot menipis, sementara pasokan dari sekutu belum tiba.
- Kyiv terus melancarkan serangan balasan dengan drone ke kapal logistik Rusia di Laut Azov, menargetkan infrastruktur bahan bakar dan amunisi.

Rusia melancarkan serangan rudal dan drone secara masif ke sejumlah kota di Ukraina pada Sabtu (11/7), menewaskan sedikitnya enam warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Otoritas setempat melaporkan bahwa gelombang serangan ini terjadi di tengah krisis amunisi pertahanan udara yang dialami Ukraina, membuat negeri itu rentan terhadap gempuran udara musuh.
Empat orang tewas dan 17 lainnya luka-luka akibat dua bom luncur yang menghantam kawasan padat penduduk di Kota Sumy, Ukraina utara. Salah satu bom menghantam halte bus, menghancurkan sebuah bus kuning hingga sisi kendaraan itu robek. Di Kota Odesa, pelabuhan selatan Ukraina, dua orang tewas dan satu terluka akibat serangan rudal. Sementara itu, serangan drone di Kota Kharkiv, Ukraina timur, melukai tujuh orang di sebuah fasilitas sipil.
Ibu kota Kyiv juga tidak luput dari serangan. Sebelas orang terluka dalam serangan semalam yang menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan enam rudal balistik, enam rudal jelajah, dan 121 drone dalam serangan terhadap Kyiv dan sekitarnya. Sebanyak 111 drone dan dua rudal jelajah berhasil ditembak jatuh, namun rudal balistik—yang melaju beberapa kali lebih cepat dari suara—tidak dapat diintersep.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan yang mengenai infrastruktur sipil bahkan sebelum sirine peringatan serangan udara dibunyikan. “Pembela kami berhasil menembak jatuh sebagian besar target, tetapi bukan yang balistik,” ujarnya. Ia kembali mendesak sekutu untuk segera mengirimkan paket bantuan pertahanan udara yang telah disepakati dalam KTT NATO pekan ini.
Kekurangan amunisi untuk sistem pertahanan udara Patriot menjadi titik lemah Ukraina. Dalam sebulan terakhir, militer Ukraina hampir tidak mampu menembak jatuh rudal balistik Rusia. Pemerintah di Kyiv telah memohon pasokan tambahan dari sekutu, sekaligus mendorong Eropa untuk bekerja sama mengembangkan sistem pertahanan anti-balistik buatan sendiri. Pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan Ukraina akan mendapatkan lisensi untuk memproduksi rudal pencegat Patriot secara mandiri. Zelenskyy menyerukan proyek itu dipercepat “secepat mungkin”.
Rusia meningkatkan serangan ke ibu kota Ukraina dalam beberapa pekan terakhir. Sepanjang Juli ini, serangan di Kyiv dan wilayah sekitarnya telah menewaskan lebih dari 60 orang. Di sisi lain, Ukraina terus menekan logistik militer Rusia di Ukraina selatan yang diduduki. Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, mengatakan unitnya telah menyerang 21 kapal tanker bahan bakar di Laut Azov semalam, serta tujuh kapal kargo dan pendukung lainnya. Total kapal yang dihantam dalam sepekan mencapai 76 unit.
Zelenskyy menyatakan kampanye serangan drone bertujuan untuk memaksa Rusia duduk di meja perundingan. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda melunakkan sikapnya. Otoritas Rusia melaporkan satu orang tewas dalam serangan drone terhadap empat kapal, termasuk sebuah kapal tanker pengangkut metanol, di Teluk Taganrog. Pada Jumat (10/7), kebakaran terjadi di dua depot bahan bakar dan pelabuhan Taganrog setelah serangan drone.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh total 178 drone Ukraina di berbagai wilayah semalam. Dengan eskalasi yang terus berlangsung, pertanyaan mendesak adalah: mampukah Ukraina bertahan tanpa pasokan amunisi Patriot yang memadai, atau justru serangan balasan drone akan mengubah keseimbangan di medan perang?



