Harga Minyak Melonjak 6% dalam Lima Hari: Ketegangan Geopolitik Mengalahkan Ekspektasi Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Konflik di Timur Tengah dan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 6% dalam sepekan.
- Keputusan OPEC+ menambah pasokan 188.000 barel per hari tidak mampu meredam kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan di Selat Hormuz.
- Indonesia berpotensi menghadapi tekanan inflasi dan beban subsidi energi jika harga minyak terus bertahan di atas $75 per barel.

Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir, dengan Brent melesat 6,5% ke level 76,85 dolar AS per barel, didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan serangan beruntun terhadap fasilitas energi Rusia. Pergerakan ini mengabaikan sinyal penambahan pasokan dari OPEC+ yang seharusnya menekan harga.
Brent ditutup pada 76,85 dolar AS per barel pada Jumat pekan lalu, naik dari 72,12 dolar AS pada pekan sebelumnya. Sementara itu, patokan AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,3% menjadi 72,42 dolar AS. Kenaikan ini terjadi meskipun OPEC+ pada awal pekan telah menyetujui peningkatan produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) untuk Agustus, sebagai bagian dari penghentian bertahap pemangkasan sukarela.
Keputusan OPEC+ awalnya membatasi kenaikan harga karena mengindikasikan tambahan pasokan dalam beberapa bulan mendatang. Namun, sentimen berbalik tajam setelah serangkaian peristiwa geopolitik. Pada Selasa, laporan serangan rudal terhadap kapal dagang di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru tentang gangguan pasokan global. Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20% minyak dunia.
Tekanan bertambah setelah Amerika Serikat mencabut pengecualian yang memungkinkan penjualan minyak Iran berdasarkan kesepakatan sementara dengan Teheran. Langkah ini memicu spekulasi bahwa pasokan dari Iran akan menyusut. Selain itu, serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak terbesar Rusia menambah kekhawatiran terhadap produksi dan ekspor bahan bakar Moskow.
Puncak kekhawatiran terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran โberakhirโ menyusul gelombang serangan baru AS terhadap sasaran Iran. Brent sempat menembus 78 dolar AS per barel sebelum sedikit mereda. Meski demikian, harga tetap tinggi hingga akhir pekan karena saling serang antara Washington dan Teheran terus berlanjut, menjaga risiko pasokan di Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama.
Dukungan tambahan datang dari serangan Ukraina yang terus berlanjut terhadap infrastruktur minyak Rusia. Laporan menunjukkan bahwa serangan berulang telah mengganggu sebagian besar kapasitas kilang Rusia tahun ini. Namun, kenaikan harga dibatasi oleh ekspektasi bahwa produksi OPEC+ yang lebih tinggi akan secara bertahap menambah pasokan global, sementara kekhawatiran bahwa harga energi yang meningkat dapat memicu inflasi dan menjaga suku bunga tetap tinggi terus membebani prospek permintaan.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Jika harga bertahan di atas 75 dolar AS per barel, pemerintah harus bersiap menambah alokasi subsidi BBM dan listrik, yang berpotensi mengganggu fiskal. Di sisi lain, tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dapat mempersulit Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah gencatan senjata antara AS dan Iran dapat terwujud atau justru konflik semakin meluas. Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak berpotensi menembus 80 dolar AS. Namun, jika OPEC+ benar-benar merealisasikan tambahan pasokan dan permintaan global melemah akibat suku bunga tinggi, kenaikan mungkin hanya bersifat sementara. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menghadapi skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan?



