Typhoon Bavi Mengamuk: 1,8 Juta Warga China Dievakuasi, Ribuan Penerbangan Dibatalkan
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, yang telah menewaskan 17 orang di Filipina, kini mengancam China timur dengan evakuasi massal 1,8 juta jiwa.
- Badai raksasa ini menyebabkan pembatalan penerbangan di Singapura, Taiwan, dan Filipina, serta memicu gelombang tinggi di Thailand.
- Dampak Bavi menyoroti kerentanan Asia Tenggara terhadap bencana hidrometeorologi yang kian ekstrem akibat perubahan iklim.

Topan Bavi, yang telah merenggut 17 nyawa di Filipina dan memaksa evakuasi 1,8 juta warga China, kini menjadi ujian bagi kesiapsiagaan bencana di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Badai yang sempat kehilangan mata siklonnya ini justru meluas hingga 1.263 kali luas Hong Kong, mengancam Taiwan, Jepang, dan daratan China dengan hujan deras serta angin kencang.
Di China, otoritas setempat mengerahkan personel militer dan relawan untuk memperkuat tanggul serta menyiapkan tempat pengungsian. Lebih dari 500 ribu rumah tangga di Provinsi Fujian dan Zhejiang telah dipadamkan aliran listriknya sebagai langkah antisipasi. Sementara itu, Taiwan menutup seluruh aktivitas bursa saham dan perkantoran, serta membatalkan 120 penerbangan domestik dan internasional. Jepang, melalui badan meteorologinya, mengeluarkan peringatan tanah longsor dan banjir bandang untuk wilayah Iwate dan Okinawa.
Dampak Bavi juga terasa di Asia Tenggara. Thailand melaporkan gelombang setinggi empat meter di 29 provinsi, sementara Filipina mencatat 514.700 jiwa terdampak. Di Vietnam, maskapai Vietnam Airlines membatalkan puluhan jadwal penerbangan, dan 15 turis India tewas akibat perahu cepat terbalik di perairan selatan negara ituโmeski belum jelas apakah terkait langsung dengan topan. Singapura mencatat setidaknya 20 penerbangan dari Changi Airport dibatalkan, sebagian besar menuju Jepang dan Taiwan.
Bagi Indonesia, meski tidak langsung dilintasi Bavi, fenomena ini menjadi pengingat akan ancaman siklon tropis yang kerap memicu cuaca ekstrem di wilayah barat Nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa dalam dua dekade terakhir, frekuensi siklon tropis di Samudra Hindia selatan Indonesia meningkat 15 persen. โKita harus belajar dari evakuasi massal China. Sistem peringatan dini dan infrastruktur penampungan air perlu diperkuat,โ ujar seorang ahli klimatologi dari Universitas Gadjah Mada yang enggan disebut namanya.
Di tengah kekacauan, muncul secercah harapan di bidang energi. Harga minyak mentah dunia turun tipis di akhir pekan menyusul optimisme bahwa pelayaran di Selat Hormuz akan kembali lancar setelah negosiasi AS-Iran. Namun, Badai Bavi justru mengancam rantai pasok LNG dan kapal-kapal Jepang yang melintasi selat tersebut. Sementara itu, China memanfaatkan momentum ini untuk menguji coba bahan bakar roket berbasis LNG pada misi Long March terbaruโsebuah langkah yang menunjukkan ambisi Beijing dalam teknologi antariksa.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah negara-negara Asia, termasuk Indonesia, membangun ketahanan kolektif menghadapi badai yang kian ganas akibat pemanasan global? Atau akankah setiap musim siklon selalu meninggalkan duka dan kerugian ekonomi yang berulang?



