Maldini Kembali ke Sepak Bola Italia: Ditunjuk sebagai Direktur Teknis FIGC
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini resmi menjabat direktur teknis FIGC dengan kontrak empat tahun, tugas utama membenahi tim nasional Italia yang gagal lolos tiga Piala Dunia beruntun.
- Leonardo, mantan rekan setim di AC Milan, akan mendampingi sebagai penasihat, menambah bobot pengalaman di jajaran teknis federasi.
- Prioritas pertama Maldini adalah memilih pelatih baru; nama Antonio Conte dan Roberto Mancini disebut-sebut sebagai kandidat kuat.

Paolo Maldini, legenda hidup sepak bola Italia, resmi menerima tawaran untuk menjadi direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Keputusan ini diambil di tengah upaya federasi membangun kembali kejayaan Gli Azzurri setelah serangkaian kegagalan di pentas dunia. Maldini akan mengemban tugas sebagai presiden Club Italia, sebuah posisi baru yang memberinya wewenang luas, tidak hanya dalam pemilihan pelatih kepala tetapi juga seluruh pembinaan tim nasional.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Maldini telah menandatangani kontrak berdurasi empat tahun dengan persyaratan yang dinilai menguntungkan bagi FIGC. Langkah ini diambil setelah negosiasi panjang dengan presiden federasi Giovanni Malagรฒ. Kehadiran Maldini diharapkan mampu membawa perubahan signifikan, mengingat reputasinya sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa yang telah memenangi lima trofi Liga Champions bersama AC Milan.
Dalam kejutan yang menarik perhatian, Leonardo, mantan rekan setim Maldini di AC Milan sekaligus kolega di jajaran manajemen klub, akan bergabung sebagai penasihat. Duet ini diyakini akan memberikan sinergi kuat dalam merancang strategi jangka panjang sepak bola Italia. Leonardo sebelumnya pernah menjabat sebagai direktur olahraga di Milan dan Paris Saint-Germain, sehingga pengalamannya dianggap pelengkap ideal bagi Maldini.
Tugas pertama yang paling mendesak bagi Maldini dan Leonardo adalah menentukan pelatih kepala baru untuk memimpin Italia ke siklus berikutnya. Beberapa nama telah disebut-sebut oleh Malagรฒ, termasuk Antonio Conte dan Roberto Mancini. Keduanya merupakan pelatih berpengalaman dengan rekam jejak sukses di level klub dan tim nasional. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Maldini, yang harus memastikan bahwa pelatih yang dipilih sejalan dengan visi teknis federasi.
Penunjukan ini terjadi di saat terendah dalam sejarah modern tim nasional Italia. Kegagalan lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut menjadi tamparan keras bagi negara yang pernah empat kali menjadi juara dunia. Banyak mantan pemain internasional yang angkat suara mengkritik kemunduran ini, menuntut reformasi menyeluruh. FIGC pun merespons dengan membentuk proyek jangka panjang yang berfokus pada Piala Dunia mendatang sebagai target utama.
Bagi pecinta sepak bola Indonesia, kisah Maldini tentu tidak asing. Ia adalah simbol ketangguhan dan loyalitas yang jarang ditemukan di era modern. Langkah FIGC merekrut figur sekaliber Maldini bisa menjadi pelajaran berharga bagi federasi sepak bola di Tanah Air, yang juga tengah berupaya membangun kembali tim nasional setelah berbagai kegagalan di kancah internasional. Kehadiran tokoh legendaris dalam struktur organisasi seringkali menjadi katalis perubahan, seperti yang terjadi di Italia saat ini.
Maldini sendiri mengakui bahwa tugas ini adalah yang terberat dalam kariernya. Setelah tiga tahun vakum dari dunia sepak bola pasca hengkang dari AC Milan secara tidak harmonis, ia kini kembali dengan tanggung jawab besar. Beban ekspektasi seluruh bangsa ada di pundaknya. Namun, jika ada satu orang yang dipercaya mampu membangkitkan kembali kejayaan Italia, Maldini adalah jawabannya. Pertanyaan besarnya: akankah ia mampu mengulang kesuksesan seperti saat menjadi pemain?



