Dermot Murnaghan Meninggal di Usia 68, Jurnalis Legendaris yang Gigih Perangi Kanker Prostat
Baca dalam 60 detik
- Dermot Murnaghan, pembawa berita senior Sky News dan BBC, meninggal di rumahnya di London Utara setelah berjuang melawan kanker prostat stadium empat.
- Sejak diagnosis tahun lalu, ia gencar mengampanyekan skrining dini kanker prostat, mendorong pria di atas 50 tahun untuk melakukan tes PSA.
- Warisan kariernya mencakup liputan peristiwa besar seperti kematian Putri Diana dan Ratu Elizabeth II, serta menjadi satu-satunya presenter yang memandu program berita utama di empat stasiun TV Inggris.

Dermot Murnaghan, wajah tenang yang menemani pemirsa Inggris selama puluhan tahun dalam berbagai peristiwa besar, mengembuskan napas terakhir di kediamannya di London Utara pada Sabtu pagi, 11 Juli 2026, dalam usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia jurnalistik, tetapi juga bagi ribuan pria yang terinspirasi oleh perjuangannya melawan kanker prostat stadium akhir.
Kabar duka ini diumumkan langsung oleh pihak keluarga melalui pernyataan resmi yang diunggah di media sosial. Mereka menyebut Murnaghan meninggal dengan tenang, dikelilingi oleh orang-orang terkasih, setelah menjalani masa perawatan kanker prostat yang telah didiagnosis sejak pertengahan tahun lalu. "Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada tim medis yang telah merawat Dermot dengan penuh kepekaan dan kasih sayang luar biasa selama sakitnya," tulis keluarga dalam pernyataan tersebut.
Murnaghan bukan sekadar pembawa berita. Dalam karier yang membentang lebih dari lima dekade, ia tercatat sebagai satu-satunya jurnalis yang pernah menjadi presenter utama di Channel 4 News, ITV News at Ten, BBC Ten O'Clock News, dan Sky News at Ten. Ia juga dikenal luas sebagai pembawa acara kuis Eggheads di BBC, menunjukkan kemampuannya menjembatani antara berita keras dan hiburan. Momen-momen bersejarah seperti wafatnya Putri Diana dan Ratu Elizabeth II turut diwarnai oleh suara khasnya yang teduh namun berwibawa.
Setelah mengumumkan diagnosis kanker prostat stadium empat pada Juni 2025, Murnaghan memilih untuk tidak berdiam diri. Ia menyebut penyakitnya sebagai "tak tersembuhkan, tapi bukan tak terobati" dan mulai menggunakan pengaruhnya untuk mendorong kesadaran akan pentingnya skrining dini. Ia kerap mendesak pria berusia di atas 50 tahun dan kelompok berisiko tinggi untuk "menuntut" tes PSA jika memiliki kekhawatiran. "Saya merasa lolos dari jerat sebelum kanker ini ditemukan," ujarnya suatu ketika, menggambarkan betapa mudahnya penyakit ini luput dari deteksi.
Kampanye Murnaghan mendapat perhatian luas di Inggris dan memicu diskusi tentang kesenjangan akses skrining kanker prostat. Di Indonesia, isu serupa juga relevan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kanker prostat menempati peringkat keempat kanker terbanyak pada pria Indonesia, namun kesadaran untuk melakukan deteksi dini masih rendah. Minimnya program skrining nasional dan stigma seputar pemeriksaan kesehatan reproduksi pria menjadi tantangan tersendiri. Kisah Murnaghan bisa menjadi momentum bagi publik Indonesia untuk lebih peduli terhadap kesehatan prostat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau memasuki usia rentan.
Menurut rencana, pemakaman Murnaghan akan digelar secara tertutup sesuai permintaan almarhum. Sebuah upacara peringatan untuk rekan dan sahabat akan diselenggarakan akhir tahun ini di Gereja St Bride's, Fleet Street, Londonโsebuah lokasi simbolis yang dekat dengan pusat industri pers Inggris. Keluarga meminta mereka yang ingin menghormati jasanya untuk memberikan donasi kepada Prostate Cancer UK, Prostate Cancer Research, atau North London Hospice.
Kehilangan Murnaghan meninggalkan celah besar di dunia penyiaran, namun warisannya sebagai jurnalis sekaligus advokat kesehatan akan terus bergema. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kegigihannya dalam mengampanyekan skrining dini benar-benar mengubah kebijakan kesehatan di Inggris dan negara lain, termasuk Indonesia, agar lebih responsif terhadap kanker yang kerap diabaikan ini?



