Delegasi Militer AS di Beirut Bahas Penarikan Israel dari Zona Percontohan Lebanon
Baca dalam 60 detik
- Delegasi militer Amerika Serikat bertemu dengan komando tentara Lebanon untuk merinci mekanisme penarikan Israel dari salah satu zona percontohan di Lebanon selatan.
- Kesepakatan Juni lalu menyerahkan kendali dua wilayah kecil kepada tentara Lebanon, namun ditolak Hizbullah dan tanpa jadwal penarikan yang pasti.
- Putaran perundingan berikutnya di Roma akan menjadi ujian bagi komitmen kedua pihak, sementara Presiden Lebanon dijadwalkan bertemu Donald Trump akhir bulan ini.

Delegasi militer Amerika Serikat telah memulai pertemuan dengan pimpinan tentara Lebanon di Beirut untuk merumuskan langkah-langkah penarikan pasukan Israel dari salah satu zona percontohan di wilayah pendudukan selatan Lebanon, demikian diungkapkan seorang pejabat militer Lebanon kepada AFP pada Sabtu (11/7).
Langkah ini merupakan implementasi dari kerangka kesepakatan yang ditandatangani pada 26 Juni lalu, yang mengatur penarikan bertahap Israel dari daerah-daerah yang dimasuki pasukannya selama kampanye militer melawan Hizbullah. Berdasarkan perjanjian tersebut, tentara Lebanon—yang selama ini lemah dan tidak banyak berperan—akan mengambil alih kendali penuh atas dua wilayah kecil yang disebut sebagai zona percontohan.
"Delegasi militer Amerika tiba dan memulai pertemuan dengan komando tentara Lebanon untuk membahas mekanisme penerapan zona percontohan pertama, tempat pasukan Israel akan mundur dan tentara Lebanon akan dikerahkan," kata pejabat tersebut yang meminta namanya tidak disebutkan. Ia menegaskan bahwa ini adalah tujuan utama kedatangan delegasi AS, yaitu menerjemahkan kerangka kesepakatan ke dalam tindakan nyata.
Duta Besar AS untuk Lebanon, Michel Issa, telah memberi tahu Presiden Joseph Aoun pada Kamis lalu bahwa delegasi militer AS akan tiba dalam beberapa hari untuk menentukan mekanisme pelaksanaan kesepakatan. Di Washington, seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa tahap implementasi telah dimulai. "Zona percontohan pertama akan diluncurkan dalam hitungan hari, dan zona-zona percontohan lainnya sedang dipetakan dan direncanakan," ujar pejabat tersebut secara anonim. Komando Pusat AS akan mengoordinasikan zona-zona itu dengan kedua negara.
Meski ada kemajuan diplomatik, kesepakatan ini ditolak oleh Hizbullah, yang selama ini menjadi kekuatan dominan di Lebanon selatan. Israel pun berulang kali menyatakan bahwa pasukannya akan tetap berada di zona keamanan sedalam 10 kilometer selama Hizbullah masih memiliki persenjataan. Serangan sporadis Israel masih terjadi; pada Sabtu, kantor berita nasional Lebanon melaporkan beberapa serangan di selatan negara itu.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi Indonesia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB (periode 2019-2020) dan kontribusinya pada misi pemeliharaan perdamaian UNIFIL di Lebanon selatan. Setiap perubahan konfigurasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon berpotensi mempengaruhi keamanan personel TNI yang bertugas di bawah UNIFIL. Selain itu, stabilitas kawasan Timur Tengah selalu berdampak pada harga energi dan arus perdagangan global yang memengaruhi perekonomian Indonesia.
Putaran perundingan kelima antara Lebanon dan Israel—dua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik—dijadwalkan berlangsung di Roma pada Rabu dan Kamis pekan depan. Lebanon mensyaratkan partisipasinya dalam perundingan tersebut dengan penarikan Israel dari dua zona percontohan. Perundingan ini juga menjadi pemanasan menjelang kunjungan Presiden Aoun ke Washington akhir bulan ini atas undangan Presiden Donald Trump. Pertanyaan besarnya, mampukah kerangka kesepakatan yang rapuh ini bertahan di tengah tekanan dari berbagai pihak, terutama Hizbullah yang menolak dan Israel yang enggan menarik penuh pasukannya?



