Fenomena Hikikomori di Singapura: Ketika Remaja Memilih Menghilang dari Dunia
Baca dalam 60 detik
- Puluhan remaja Singapura mengisolasi diri hingga bertahun-tahun, fenomena yang dikenal sebagai hikikomori, dengan kasus yang dilaporkan melonjak lebih dari lima kali lipat dalam enam tahun terakhir.
- Para ahli menilai bahwa penarikan diri ini bukan sekadar kemalasan, melainkan respons terhadap kecemasan dan trauma, yang membutuhkan pendekatan pelan dan tanpa tekanan dari pekerja sosial.
- Dokumenter Shutdown menyoroti perjuangan empat remaja dan keluarga mereka, serta menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan komunitas untuk mencegah isolasi yang semakin dalam.

Di balik pintu-pintu rumah susun di Singapura, sekelompok remaja memilih untuk menghentikan total interaksi mereka dengan dunia luar. Mereka bukan pemalas atau pembangkang, melainkan individu yang dilumpuhkan oleh ketakutan mendalam. Fenomena yang dikenal dengan istilah Jepang hikikomori ini kini menjadi perhatian serius di negara kota tersebut, dengan jumlah kasus yang dilaporkan melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Fei Yue Community Services, salah satu lembaga sosial yang menangani masalah ini, mencatat bahwa mereka kini menangani 111 kasus remaja yang menarik diri dari sekolah, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Angka ini melonjak dari hanya 20 kasus enam tahun lalu. Lebih mengkhawatirkan lagi, ada 60 remaja lain yang masih berada dalam daftar tunggu. Meskipun belum ada studi nasional yang mengukur skala sebenarnya, para pekerja sosial sepakat bahwa tren ini meningkat.
Dokumenter berjudul Shutdown yang diproduksi oleh The Moving Visuals Co selama delapan bulan, mengikuti empat remaja Singapura yang hidup dalam spektrum penarikan diri ini. Salah satunya adalah Danzel Panniachelvam, yang mulai bersembunyi di bawah tempat tidur saat SD karena perundungan. Pada usia 19 tahun, dunianya menyusut menjadi hanya kamar tidur, dengan aktivitas tidur di siang hari dan bermain game di malam hari. Diagnosis dokter: depresi ekstrem. Akibat bertahun-tahun tidak bergerak, kakinya melemah dan keseimbangannya terganggu, sehingga ia membutuhkan fisioterapi. Namun, meninggalkan rumah untuk berobat pun terasa sangat berat baginya.
Kisah lain datang dari keluarga Chuah, yang nama aslinya dirahasiakan. Putra mereka, John (15), mengurung diri di kamar sejak November 2023. Ia hanya keluar sekali atau dua kali sehari saat semua orang tidur, bahkan membatasi minum agar tidak perlu ke toilet. Ketika akhirnya muncul pada Juli lalu, rambutnya panjang menutupi wajah, dan tubuhnya berubah drastis. Namun, setelah beberapa minggu bergabung makan malam, ia kembali menarik diri. Kini, ia berkomunikasi dengan membenturkan dinding. Pekerja sosial Rauf Malachi Redza Fauzi menjelaskan bahwa bagi John, menarik diri adalah mekanisme koping saat stres, marah, atau frustrasi.
Fenomena ini tidak hanya melanda Singapura. Di Indonesia, meskipun belum ada data resmi, kasus serupa mulai terlihat di kota-kota besar. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Dewi Retno Suminar, menilai bahwa tekanan akademik, perundungan, dan pengaruh media sosial dapat memicu kecemasan yang mendorong remaja untuk mengisolasi diri. “Kita perlu waspada terhadap tanda-tanda awal seperti sering bolos sekolah, menghindari interaksi sosial, atau lebih banyak menghabiskan waktu di kamar,” ujarnya. Sayangnya, stigma dan kurangnya pemahaman sering membuat orang tua terlambat menyadari masalah ini.
Para ahli psikiatri di Singapura, seperti John Wong dari National University Hospital, menekankan bahwa remaja hikikomori umumnya memiliki pengalaman negatif di keluarga, sekolah, atau dengan teman sebaya. “Mereka menghindari situasi yang memicu kecemasan dan menarik diri ke lingkungan rumah,” katanya. Daniel Fung dari Institute of Mental Health menambahkan bahwa kompleksitas dunia modern menyebabkan kecemasan berlebih pada anak muda, dan penghindaran total adalah bentuk ekstrem dari respons tersebut.
Penanganan hikikomori membutuhkan kesabaran luar biasa. Pekerja sosial sering kali harus memulai dengan langkah kecil, seperti mengetuk pintu kamar, meninggalkan makanan, atau berbicara keras-keras agar suara mereka dikenal. Tan Yang Hong, pekerja sosial Danzel, butuh enam bulan kunjungan rutin setiap dua minggu sebelum Danzel mau merespons. “Kami sering berbicara dengan pintu selama setahun penuh,” aku Rauf. Kegagalan dan kemunduran adalah hal biasa, dan para pekerja sosial pun harus melawan rasa ragu pada diri sendiri.
Namun, ada secercah harapan. Goay Zhen Yi, 16 tahun, yang takut keluar rumah karena merasa selalu dinilai, kini mulai berani mengikuti program sosial. Ia bahkan membuat diorama kamarnya yang dipamerkan dalam festival Light to Night Singapura. “Saya merasa hidup saya banyak berubah,” katanya. Shaista Qistina, 18 tahun, mulai pergi ke gym khusus perempuan dan berencana mengikuti ujian N level. Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung, yang bertemu dengan keluarga Chuah, menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan tanpa tekanan. “Terkadang, yang dibutuhkan justru melakukan lebih sedikit—tidak menghakimi, tidak memaksa, dan memberi ruang untuk kepercayaan,” ujarnya.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Indonesia siap menghadapi gelombang hidden youth ini? Dengan sistem dukungan kesehatan mental yang masih terbatas dan stigma yang kuat, banyak remaja mungkin akan terus menghilang di balik pintu kamar mereka—tanpa ada yang menyadari sampai semuanya terlambat.



