FIGC Beri Tenggat Satu Hari: Maldini Harus Putuskan Masa Depan Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini belum memberi jawaban atas tawaran menjadi direktur teknis FIGC, sementara Presiden Giovanni Malagò menuntut keputusan paling lambat besok.
- Posisi direktur teknis krusial dalam restrukturisasi Azzurri, karena akan menentukan pemilihan pelatih kepala dan pengawasan seluruh kelompok umur.
- Jika Maldini menolak, FIGC telah menyiapkan tiga kandidat alternatif: Demetrio Albertini, Gianfranco Zola, dan Giuseppe Bergomi.

Kursi direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) masih kosong, dan Paolo Maldini—legenda hidup AC Milan—belum juga mengucapkan ya atau tidak. Namun, Presiden FIGC Giovanni Malagò tidak akan menunggu selamanya: batas waktu pengambilan keputusan hanya sampai besok, demikian dilaporkan La Gazzetta dello Sport.
Posisi yang ditawarkan kepada Maldini bukan sekadar jabatan seremonial. Direktur teknis akan memiliki peran vital dalam restrukturisasi Timnas Italia, termasuk ikut menentukan pelatih kepala baru dan mengawasi seluruh aktivitas tim nasional—dari kelompok umur hingga skuad senior. Ini adalah bagian dari upaya FIGC membangun kembali fondasi Azzurri setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan performa yang inkonsisten di turnamen internasional.
Pertemuan yang dijadwalkan Jumat lalu antara Malagò dan Maldini batal digelar. Alasan pembatalan tidak diungkap secara rinci, namun sumber internal menyebutkan bahwa Maldini masih mempertimbangkan secara matang tawaran tersebut. Sementara itu, Malagò menegaskan akan mengambil keputusan final soal direktur teknis pada akhir pekan ini, yang berarti ia hanya memberi waktu satu hari lagi bagi sang legenda untuk menjawab.
Meski tenggat semakin mendekat, Malagò dikabarkan masih optimistis Maldini akan menerima tawaran. Keyakinan ini membuat FIGC belum membuka pembicaraan dengan kandidat lain. Namun, menurut laporan Repubblica, federasi telah menyiapkan tiga nama sebagai cadangan: Demetrio Albertini, Gianfranco Zola, dan Giuseppe Bergomi. Ketiganya adalah mantan pemain timnas Italia yang kini berkecimpung di manajemen sepak bola.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan Maldini akan menjadi sinyal besar. Jika ia menerima, itu berarti federasi berhasil menggaet sosok berwibawa yang bisa menjembatani hubungan antara klub-klub besar dan tim nasional. Sebaliknya, penolakan Maldini bisa memicu krisis kepercayaan terhadap arah restrukturisasi FIGC di bawah kepemimpinan Malagò.
Konteks domestik Indonesia pun relevan. FIGC tengah menghadapi dilema yang akrab bagi PSSI: bagaimana merekrut figur legendaris ke dalam struktur federasi tanpa mengorbankan independensi dan profesionalisme. Di Indonesia, wacana pelibatan mantan pemain timnas dalam posisi strategis kerap muncul, namun eksekusinya sering terganjal oleh ego dan kepentingan jangka pendek. Kasus Maldini bisa menjadi studi banding tentang pentingnya batas waktu yang jelas dan rencana cadangan yang matang.
Jika Maldini akhirnya menolak, FIGC harus bergerak cepat menunjuk salah satu dari Albertini, Zola, atau Bergomi. Masing-masing memiliki kelebihan: Albertini paham birokrasi federasi, Zola berpengalaman sebagai pelatih di level klub dan timnas, sementara Bergomi adalah ikon Inter Milan yang disegani. Namun, tidak satu pun dari mereka yang memiliki aura sekuat Maldini di mata publik Italia.
Keputusan ada di tangan Maldini. Akankah ia memilih kembali ke sepak bola Italia dalam peran non-teknis, atau mempertahankan jarak dari hiruk-pikuk federasi? Besok adalah batas akhir, dan seluruh Italia menanti jawabannya.



