Roket Long March-10B China Sukses Gunakan Bahan Bakar Metana dari LNG, Biaya Meluncur 40 Persen Lebih Murah
Baca dalam 60 detik
- Roket komersial China Long March-10B untuk pertama kalinya menggunakan bahan bakar metana kemurnian tinggi yang berasal dari LNG, menekan biaya penyimpanan dan transportasi hingga 40 persen.
- Keberhasilan ini membuka jalur pasokan propelan alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan bagi industri antariksa komersial China yang tengah tumbuh pesat.
- Penguasaan teknologi ini berpotensi mempercepat misi peluncuran satelit berfrekuensi tinggi dan menekan biaya logistik antariksa global, termasuk yang berdampak pada pasar satelit Indonesia.

China mencatat tonggak baru dalam industri antariksa komersialnya setelah roket Long March-10B berhasil menggunakan bahan bakar metana kemurnian tinggi yang diolah dari liquefied natural gas (LNG) pada peluncuran perdananya, Jumat lalu. Langkah ini tidak hanya mendiversifikasi sumber propelan, tetapi juga berpotensi memangkas biaya peluncuran secara signifikan—sebuah terobosan yang dinanti pelaku industri antariksa global, termasuk di Indonesia.
Roket dua tahap yang dapat digunakan kembali ini dirancang khusus untuk pasar komersial China. Dengan diameter inti lima meter dan seluruh komponen kritis buatan dalam negeri, Long March-10B menjadi kendaraan peluncur komersial pertama Negeri Tirai Bambu yang menggunakan propelan oksigen cair-metana. Menurut pengembang bahan bakarnya, Sinopec, metana yang digunakan memiliki kemurnian 98,7 persen dan seluruh rantai pasokannya berasal dari dalam negeri.
Cao Lizhao, manajer pusat penjualan China selatan cabang gas alam Sinopec, mengungkapkan bahwa bahan bakar metana tersebut dimurnikan dari lebih dari 1.000 ton LNG. “Bahan bakar metana kemurnian tinggi dapat diproses dan disiapkan menggunakan LNG sipil,” ujarnya. Ia menambahkan, dibandingkan dengan hidrogen cair tradisional, propelan ini mengurangi biaya penyimpanan dan transportasi hingga 40 persen, menawarkan solusi bahan bakar yang layak untuk peluncuran komersial berbiaya rendah dan berfrekuensi tinggi.
Industri antariksa komersial China berkembang pesat, namun propelan tradisional seperti oksigen cair-minyak tanah dan oksigen cair-hidrogen cair dinilai tidak lagi memadai untuk misi yang sering dan murah. Propelan oksigen cair-metana hadir dengan kinerja unggul, kompatibel dengan teknologi reusable, ramah lingkungan, serta mudah disimpan dan diangkut. Menurut laporan China Media Group, jenis propelan ini kini menjadi pilihan utama untuk kendaraan peluncur komersial generasi berikutnya.
Ding Dapeng, manajer yang menangani bisnis LNG di cabang gas alam Sinopec, menekankan bahwa keberhasilan aplikasi metana kemurnian tinggi dalam misi antariksa komersial menandai terbentuknya sistem pasokan propelan yang beragam, dapat disubstitusi, dan aman. “Ini memberikan jalur teknologi yang ekonomis dan rendah karbon untuk pengembangan industri antariksa komersial berkualitas tinggi, sekaligus meningkatkan kemandirian dan daya saing inti industri,” jelasnya.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan ekosistem satelit dan antariksa nasional, terobosan ini membawa implikasi strategis. Biaya peluncuran yang lebih murah dapat membuka akses lebih luas bagi operator satelit Indonesia—baik untuk telekomunikasi, observasi bumi, maupun navigasi. Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada peluncur asing dengan biaya tinggi. Jika teknologi metana dari LNG ini terbukti stabil dan dapat diadopsi secara komersial, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjajaki kerja sama dengan China untuk peluncuran satelit di masa depan, atau bahkan mengkaji penggunaan bahan bakar serupa untuk program antariksa dalam negeri.
Keberhasilan Long March-10B juga menegaskan bahwa China serius membangun ekosistem antariksa komersial yang mandiri dan kompetitif. Dengan biaya logistik yang lebih rendah dan frekuensi peluncuran yang lebih tinggi, negara-negara berkembang seperti Indonesia bisa mendapatkan manfaat dari penurunan harga peluncuran satelit secara global. Pertanyaannya kini, apakah Indonesia akan memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat realisasi satelit mandiri, atau justru tertinggal dalam persaingan antariksa regional?



