Industri Komponen Otomotif RI Tertekan Rupiah, GIAMM Yakin Proyek Mobil Nasional Jadi Penyelamat
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan rupiah mendorong biaya produksi komponen otomotif nasional meningkat tajam.
- Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) optimistis pasar domestik yang besar mampu menyerap produk lokal di tengah tekanan daya beli.
- Rencana mobil nasional pemerintahan Prabowo dinilai menjadi momentum bagi industri komponen untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat daya saing.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang berkepanjangan membuat ongkos produksi industri komponen otomotif tanah air membengkak, namun asosiasi pengusaha justru melihat peluang besar di balik rencana pengembangan mobil nasional yang digagas pemerintah Prabowo Subianto.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmad Basuki, mengungkapkan bahwa kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku impor menjadi momok utama bagi para produsen komponen. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat terus tertekan di level Rp16.500 per dolar AS, membuat biaya produksi komponen seperti suku cadang mesin dan sistem kelistrikan melonjak hingga dua digit. โKami menghadapi tekanan ganda: biaya produksi naik sementara daya beli konsumen melemah,โ ujarnya dalam diskusi tertutup dengan media, Rabu (8/7/2026).
Meski demikian, GIAMM enggan bersikap pesimistis. Rachmad menegaskan bahwa prospek pasar dalam negeri masih sangat besar, terutama dengan adanya program mobil nasional yang tengah dirancang oleh Kementerian Perindustrian. Proyek ini diyakini akan mendorong permintaan komponen lokal secara signifikan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. โKami siap mendukung penuh kebutuhan komponen untuk mobil nasional. Kapasitas produksi dalam negeri sudah terbukti mampu menembus pasar ekspor,โ tambahnya.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Produk komponen asal China, dengan skala produksi raksasa dan harga yang lebih murah, terus menggerogoti pangsa pasar domestik. Rachmad mengakui bahwa efisiensi produksi dalam negeri masih kalah bersaing. โChina bisa memproduksi jutaan unit per tahun, sementara kita masih ratusan ribu. Selisih biaya produksi bisa mencapai 30%,โ jelasnya. Untuk mengatasinya, GIAMM mendorong pemerintah memberikan insentif fiskal bagi industri padat karya ini, seperti keringanan pajak impor mesin dan bahan baku.
Bagi pelaku industri di Indonesia, situasi ini menjadi ujian sekaligus peluang. Jika proyek mobil nasional berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin industri komponen lokal akan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Namun, jika tekanan rupiah berlanjut dan daya beli masyarakat terus tergerus, optimisme itu bisa pudar. Pertanyaannya, akankah kebijakan pemerintah cukup cepat dan tepat untuk menyelamatkan salah satu sektor manufaktur andalan ini?



