Julian Ryerson: Bek Sayap Norwegia yang Jadi 'Dewa Umpan Silang' Dortmund
Baca dalam 60 detik
- Julian Ryerson mencatatkan empat assist dalam satu pertandingan Bundesliga 2025/26, sebuah pencapaian langka yang hanya pernah dilakukan tiga pemain sebelumnya.
- Pemain berusia 28 tahun itu menjadi kunci keberhasilan Norwegia lolos ke Piala Dunia 2026 setelah 28 tahun absen, dengan kontribusi empat assist dan satu gol di kualifikasi.
- Pelatih Norwegia, Ståle Solbakken, menyebut Ryerson sebagai pemain 'tidak normal' yang kepalanya layak diteliti setelah pensiun, menandakan keistimewaan kemampuannya.

Julian Ryerson, bek sayap Borussia Dortmund asal Norwegia, menjelma menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di Bundesliga musim 2025/26. Bukan hanya karena kemampuannya bertahan, tetapi juga karena kontribusi ofensifnya yang luar biasa: ia mencatatkan empat assist dalam satu pertandingan, sebuah prestasi yang hanya pernah diraih oleh tiga pemain lain dalam sejarah liga.
Pencapaian itu terjadi pada pekan ke-23 Bundesliga saat Dortmund menghancurkan Mainz 4-0. Ryerson, yang sebelumnya hanya mengoleksi empat assist sepanjang musim 2024/25, langsung melampaui catatan tersebut dalam satu laga. Tak heran para penggemar BVB menjulukinya Flankengott—dewa umpan silang. Dari sisi pertahanan, ia pun menunjukkan fleksibilitas dengan dimainkan sebagai bek tengah di laga Liga Champions melawan Juventus.
Performa gemilang Ryerson tidak hanya bersinar di level klub. Ia menjadi salah satu pilar utama skuad Norwegia yang akhirnya lolos ke Piala Dunia 2026 setelah 28 tahun absen. Dalam delapan pertandingan kualifikasi, pemain berusia 28 tahun itu mencatatkan empat assist dan satu gol internasional pertamanya. Bersama Erling Haaland dan Martin Ødegaard, Ryerson melengkapi trio pemain berkualitas tinggi yang membuat Norwegia kini diperhitungkan di panggung global.
Pelatih Norwegia, Ståle Solbakken, memberikan pujian setinggi langit kepada Ryerson. "Ryerson benar-benar tidak normal. Tengkoraknya akan diteliti setelah ia meninggal," ujar Solbakken, menggambarkan keunikan dan keistimewaan sang pemain. Sementara itu, pelatih Dortmund Niko Kovač menekankan konsistensi Ryerson: "Julian terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Setiap pelatih bersyukur memiliki pemain seperti dia yang bisa mengirim bola ke tempat yang tepat."
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Ryerson menjadi contoh bagaimana pemain dengan peran defensif bisa menjadi pembeda. Di era di mana bek sayap dituntut berkontribusi ofensif, Ryerson membuktikan bahwa dedikasi dan peningkatan terus-menerus dapat mengubah seorang pemain biasa menjadi bintang. Dengan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara yang tinggal menghitung hari, Ryerson dan Norwegia siap menulis babak baru. Akankah mereka melaju hingga babak gugur? Jawabannya akan segera terungkap.



