Modi-Luxon Sepakati Kemitraan Strategis: Poros Baru di Indo-Pasifik?
Baca dalam 60 detik
- India dan Selandia Baru menandatangani perjanjian kemitraan strategis di bidang pertahanan dan keamanan saat kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Auckland.
- Kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan pengaruh China di Pasifik, termasuk uji coba rudal balistik Beijing yang memicu ketegangan regional.
- Di dalam negeri, perjanjian perdagangan bebas yang menyertainya menuai kontroversi terkait imigrasi, sementara protes kecil dari diaspora India mewarnai kunjungan tersebut.

Perdana Menteri India Narendra Modi dan mitranya dari Selandia Baru, Christopher Luxon, secara resmi meluncurkan kemitraan strategis di bidang pertahanan dan keamanan pada Sabtu (11/7) di Auckland. Kesepakatan ini menjadi tonggak baru hubungan bilateral yang telah lama vakum, sekaligus menandai pertama kalinya dalam 40 tahun seorang pemimpin India menginjakkan kaki di Wellington.
Modi tiba di Selandia Baru setelah mengunjungi Indonesia dan Australia dalam rangkaian tur 6โ11 Juli. Kunjungan ini terjadi hanya beberapa hari setelah China meluncurkan rudal balistik ke Samudra Pasifik, sebuah aksi yang memicu kecemasan di kawasan. Dalam pernyataan bersama, kedua negara menegaskan komitmen terhadap Indo-Pasifik yang "bebas, terbuka, damai, dan sejahtera" โ sebuah frasa yang kerap digunakan untuk merespons ekspansi Beijing.
Kemitraan ini mencakup peningkatan kerja sama pertahanan, termasuk latihan angkatan laut bersama, serta penguatan hubungan di bidang perdagangan, diplomasi, budaya, olahraga, dan sains. Luxon menyebut bahwa kedua pemimpin "dengan cepat membahas" uji coba rudal China, namun ia enggan mengaitkan secara langsung kesepakatan ini dengan upaya mengekang ambisi Beijing. "Kami adalah negara dagang kecil, negara maritim. Kami perlu memiliki sebanyak mungkin hubungan dengan mitra yang sepaham, baik di bidang pertahanan, perdagangan, atau keduanya," ujar Luxon dalam jumpa pers.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai sesama negara demokrasi di kawasan, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas Indo-Pasifik. Kemitraan India-Selandia Baru dapat memperkuat arsitektur keamanan regional yang inklusif, namun juga berpotensi memicu ketegangan baru dengan China. Langkah Wellington mendekati Delhi juga menjadi sinyal bahwa negara-negara kecil di Pasifik mulai mencari mitra alternatif di tengah persaingan AS-China.
Di sisi lain, kunjungan Modi tidak sepenuhnya mulus. Di luar Spark Arena Auckland, sekitar 20 demonstran Sikh memprotes dengan membawa boneka Modi berpakaian penjara, menyebutnya sebagai wajah "teror Hindu". Aksi ini memicu bentrok verbal dengan lebih dari 100 pendukung Modi yang meneriakkan yel-yel, hingga polisi harus turun tangan. Sementara itu, di dalam arena, lebih dari 10.000 anggota diaspora India menyambut hangat pemimpin mereka.
Luxon, yang akan menghadapi pemilu November mendatang, terus mempromosikan manfaat ekonomi dari perjanjian perdagangan bebas dengan India. Namun, kesepakatan itu mendapat tentangan dari Partai New Zealand First, mitra koalisi pemerintah. Menteri Shane Jones secara kontroversial menyebutnya sebagai "tsunami butter chicken" dan menolak kebijakan imigrasi yang memudahkan akses bagi pelajar dan pekerja India. Seorang tokoh komunitas India mengecam pernyataan itu sebagai "rasisme terang-terangan".
Ke depan, efektivitas kemitraan strategis ini akan diuji oleh kemampuan kedua negara untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, keamanan, dan politik domestik. Akankah poros Wellington-Delhi mampu menjadi penyeimbang di Pasifik Selatan, atau justru memicu fragmentasi lebih lanjut?



