Topan Bavi Lumpuhkan Penerbangan Internasional di Filipina, Ribuan Penumpang Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Otoritas penerbangan Filipina membatalkan sejumlah rute internasional akibat terjangan Topan Bavi yang sebelumnya dikenal sebagai Inday.
- Topan telah meninggalkan wilayah Filipina menuju Laut China Timur, diprakirakan akan mencapai daratan China bagian timur.
- Gangguan penerbangan ini berpotensi mempengaruhi konektivitas udara di kawasan ASEAN, termasuk rute yang terhubung ke Indonesia.

Puluhan penerbangan internasional dari dan menuju Filipina terpaksa dibatalkan pada Sabtu (11/7) setelah Topan Bavi—yang sebelumnya diberi nama lokal Inday—melanda wilayah utara negara tersebut. Otoritas Penerbangan Sipil Filipina (Caap) mengeluarkan imbauan darurat yang memuat daftar rute yang dihentikan sementara, menyusul kondisi cuaca ekstrem yang mengancam keselamatan operasional bandara.
Berdasarkan laporan Caap, pembatalan meliputi sejumlah maskapai yang melayani rute ke destinasi utama seperti Singapura, Hong Kong, dan Tokyo. Meski otoritas belum merilis jumlah pasti penumpang terdampak, gangguan ini dipastikan memicu kekacauan jadwal di Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) Manila dan beberapa bandara regional lainnya. Para calon penumpang diminta menghubungi maskapai masing-masing untuk informasi lebih lanjut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Filipina (PAGASA) dalam buletin pukul 10.00 waktu setempat mengonfirmasi bahwa Topan Bavi telah meninggalkan perairan Filipina dan kini bergerak di atas Laut China Timur. Topan diprakirakan akan mencapai daratan China bagian timur dalam 24 jam ke depan, berpotensi membawa hujan deras dan angin kencang ke provinsi Fujian dan Zhejiang. Pemerintah China telah mengaktifkan sistem peringatan dini di wilayah pesisir.
Bagi Indonesia, gangguan penerbangan di Filipina menjadi pengingat akan kerentanan sektor aviasi terhadap bencana hidrometeorologi di kawasan ASEAN. Rute Jakarta–Manila yang dilayani beberapa maskapai nasional berpotensi mengalami keterlambatan atau pembatalan susulan jika topan masih mempengaruhi pola penerbangan regional. Selain itu, arus logistik dan perjalanan bisnis antarnegara anggota ASEAN juga terancam terganggu, terutama menjelang musim puncak liburan.
Menurut analis penerbangan dari Center for Aviation Studies, kondisi ini menegaskan pentingnya sistem mitigasi risiko cuaca ekstrem di bandara-bandara utama Asia Tenggara. "Setiap negara anggota ASEAN perlu memiliki protokol respons cepat yang terintegrasi, termasuk berbagi data cuaca real-time dan koordinasi jadwal penerbangan," ujarnya. Kejadian serupa sebelumnya pernah melumpuhkan lalu lintas udara di Filipina saat Topan Rai pada 2021.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan infrastruktur bandara di kawasan dalam menghadapi peningkatan frekuensi siklon tropis akibat perubahan iklim. Dengan topan yang semakin intens, kolaborasi regional dalam manajemen bencana dan adaptasi teknologi menjadi keniscayaan yang tak bisa ditawar.



