Pemain Rugby Wigan Alami Rasisme, Pelaku Ditangkap Polisi
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 56 tahun ditangkap karena diduga mengirimkan komentar rasis kepada pemain Wigan Warriors, Junior Nsemba, di media sosial.
- Nsemba, pemain internasional Inggris berusia 22 tahun, menjadi sasaran ujaran kebencian setelah kemenangan dramatis timnya atas St Helens.
- Polisi Greater Manchester mengonfirmasi penangkapan tersebut dengan dukungan kedua klub, menandakan komitmen memberantas rasisme dalam olahraga.

Seorang pria asal St Helens, Inggris, ditangkap polisi setelah diduga melontarkan komentar bernada rasis kepada pemain Wigan Warriors, Junior Nsemba, melalui media sosial. Insiden ini terjadi tak lama setelah pertandingan Super League Magic Weekend yang berlangsung di Everton's Hill Dickinson Stadium, di mana Wigan menang tipis 16-14 atas St Helens.
Nsemba, pemain berusia 22 tahun yang juga memperkuat tim nasional Inggris, menjadi sasaran ujaran kebencian yang diunggah di platform digital. Wigan Warriors segera melaporkan kasus ini kepada Rugby Football League (RFL) dan aparat kepolisian. Langkah cepat klub mendapat dukungan penuh dari otoritas setempat.
Polisi Greater Manchester mengumumkan pada Jumat lalu bahwa seorang tersangka berusia 56 tahun telah ditangkap atas dugaan pelanggaran komunikasi jahat yang bermotif rasial. โDengan bantuan kedua klub, kami berhasil mengidentifikasi pelaku. Saat ini ia masih dalam tahanan dan menunggu pemeriksaan lebih lanjut,โ demikian pernyataan resmi polisi.
Kemenangan Wigan sendiri diraih secara dramatis setelah gelandang St Helens, Jackson Hastings, gagal mengeksekusi tendangan penalti di detik-detik akhir pertandingan. Namun euforia kemenangan itu ternoda oleh aksi rasis yang menimpa Nsemba. Klub pun bereaksi keras dengan menyatakan rasa โjijikโ dan โmengutukโ tindakan tersebut.
โTidak seorang pun boleh mengalami pelecehan rasial, baik di dunia maya, di lapangan, atau di mana pun. Rasisme harus diungkap, dikutuk, dan diberantas,โ tegas pernyataan resmi Wigan Warriors. Pelatih kepala Wigan, Matt Peet, juga angkat bicara. โKami harus menangani ini dengan serius dan memastikan tidak ada yang ditutup-tutupi. Saya yakin pihak berwenang akan bertindak tegas,โ ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman rasisme masih membayangi dunia olahraga, termasuk di level kompetisi elite seperti Super League. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi di sepak bola dan olahraga lainnya, meskipun regulasi dan penegakan hukum masih perlu diperkuat. Langkah cepat klub dan polisi di Inggris bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara institusi olahraga dan aparat penegak hukum mampu memberikan efek jera bagi pelaku ujaran kebencian.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana platform media sosial dapat bekerja sama dengan klub dan otoritas untuk mencegah serta menindak konten rasis secara lebih efektif. Tanpa adanya sistem pelaporan yang responsif dan sanksi yang berat, kasus serupa dikhawatirkan akan terus terulang.



