Leeds Bidik Mandela Keita sebagai Investasi Jangka Panjang di Lini Tengah
Baca dalam 60 detik
- Leeds United dikabarkan siap menggelontorkan dana 26 juta pound untuk merekrut gelandang Parma, Mandela Keita, setelah dua tawaran untuk Shea Charles ditolak Southampton.
- Keita, yang baru berusia 24 tahun, dinilai lebih unggul secara fisik dan defensif dibandingkan Ao Tanaka, sehingga cocok menjadi pelapis ideal di formasi 4-3-3 incaran Daniel Farke.
- Jika transfer ini terealisasi, Keita berpotensi menjadi pilar utama Leeds dalam jangka panjang, berbeda dengan Harry Wilson yang sudah menginjak usia 30 tahun.

Leeds United belum puas dengan satu rekrutan anyar. Setelah mengamankan Harry Wilson secara gratis, klub asal Yorkshire itu kini mengarahkan radar ke Serie A untuk mendatangkan gelandang Belgia, Mandela Keita, dari Parma. Laporan dari TEAMtalk menyebutkan bahwa tawaran senilai 26 juta pound sudah cukup untuk membawa pemain berusia 24 tahun itu ke Elland Road.
Manajer Daniel Farke tengah berupaya mengembalikan filosofi permainan penguasaan bola yang menjadi ciri khasnya. Setelah musim lalu lebih sering menggunakan formasi tiga bek—3-4-2-1 atau 3-5-2—yang berujung pada posisi ke-14 klasemen Premier League, pelatih asal Jerman itu kini berniat beralih ke formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1. Kedatangan Wilson, yang lebih cocok sebagai pemain sayap kanan ketimbang penyerang tengah, menjadi indikasi awal perubahan tersebut.
Namun, Farke sadar bahwa lini tengah juga membutuhkan suntikan tenaga baru. Meski sudah memiliki nama-nama seperti Ethan Ampadu, Anton Stach, Ao Tanaka, Ilia Gruev, dan Sean Longstaff, ia tetap mengincar Keita. Gelandang Parma itu dianggap sebagai profil ideal untuk mengisi slot ketiga di lini tengah formasi 4-3-3, bersaing dengan Tanaka yang lebih mengandalkan teknik.
Perbandingan antara Keita dan Tanaka cukup menarik. Tanaka, yang juga berusia 24 tahun, lebih lincah dalam mengatur ritme permainan, tetapi Keita menawarkan keunggulan dalam hal duel fisik dan intersepsi. Pengalamannya bermain di Serie A—salah satu liga teratas Eropa—menjadi nilai tambah. Dengan postur tubuh yang lebih kokoh, Keita diprediksi mampu menjadi penghalang yang tangguh di depan lini pertahanan Leeds.
Dari sisi usia dan potensi jual kembali, Keita jelas menjadi investasi yang lebih menjanjikan dibandingkan Wilson. Wilson akan menginjak usia 30 tahun pada musim depan, sehingga nilai jualnya cenderung menurun. Sebaliknya, Keita masih memiliki waktu sekitar lima hingga enam tahun untuk berkembang dan bisa menjadi aset berharga jika Leeds memutuskan melepasnya di kemudian hari.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Leeds di bursa transfer ini patut dicermati. Klub-klub Premier League kerap menjadi barometer bagi pemain Asia, termasuk Jepang yang diwakili Tanaka. Jika Keita datang dan menggeser Tanaka, hal itu bisa memengaruhi menit bermain pemain timnas Jepang tersebut, yang juga menjadi sorotan publik Indonesia yang mengikuti perkembangan pesepak bola Asia.
Langkah Leeds selanjutnya akan menentukan apakah mereka serius membangun skuad jangka panjang atau sekadar menambal lubang. Dengan dua target utama—Wilson dan Keita—Farke tampaknya sudah memiliki cetak biru yang jelas. Namun, persaingan dari Newcastle United dan Everton yang juga memantau Keita bisa menjadi batu sandungan. Akankah Leeds berhasil mengamankan tanda tangan gelandang Belgia itu sebelum jendela transfer ditutup?



