Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir, Trump Setuju Lanjutkan Dialog
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump mengonfirmasi bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir, meskipun Washington setuju melanjutkan perundingan atas permintaan Teheran.
- Eskalasi terbaru dipicu serangan terhadap tiga kapal tanker komersial, memicu serangan balasan AS dan Iran yang mengancam stabilitas Selat Hormuz.
- Negosiasi yang dimediasi Qatar bertujuan meredakan ketegangan, namun masa depan kesepakatan interim dan arus minyak global masih belum pasti.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir, meskipun Washington menyetujui permintaan Teheran untuk melanjutkan dialog. Pernyataan itu muncul setelah serangkaian serangan di kawasan Teluk yang melibatkan kapal tanker dan instalasi militer, meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
Trump menulis di media sosial bahwa Iran meminta untuk melanjutkan "pembicaraan" dan AS menyetujuinya, namun dengan tegas menyampaikan bahwa gencatan senjata sudah tidak berlaku lagi. "Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan istilah yang tidak ambigu, bahwa Gencatan Senjata SUDAH BERAKHIR!" tulisnya.
Pekan ini, tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Saudi menjadi sasaran tembakan, yang kemudian dibalas AS dengan serangan ke lokasi-lokasi Iran. Iran merespons dengan menyerang instalasi militer AS di negara-negara Teluk tetangga pada Kamis lalu. Insiden ini memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, yang sebelum perang menangani sekitar seperlima pasokan minyak global.
Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, negosiator Qatar bertemu dengan pejabat Iran pada Jumat untuk meredakan ketegangan dan membahas navigasi di Selat Hormuz. Langkah ini menunjukkan upaya Doha memperkuat perannya sebagai penengah, setelah sebelumnya Qatar menuduh Iran terlibat dalam insiden di selat tersebut. Analis menilai bahwa Iran kerap menggunakan aksi militer terbatas sebagai alat tawar dalam perundingan.
Di bawah kesepakatan sementara sebelumnya, AS mengakhiri blokade laut di pelabuhan Iran, dan Teheran berjanji menjamin keselamatan kapal komersial. Namun, pekan ini Washington menuduh pasukan Iran menyerang tiga kapal tanker di kawasan itu dan membalas dengan serangan ke situs militer Iran. Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di negara-negara Teluk. AS menyatakan tindakannya bertujuan menjaga agar selat tetap terbuka, sementara Iran memperingatkan bahwa selat hanya akan dibuka kembali dengan syarat mereka, dan intervensi AS akan mendapat "respons yang menghancurkan".
Dewan pengatur badan pelayaran PBB pada Jumat mengutuk upaya Iran untuk memaksakan kedaulatan atas Selat Hormuz dan keputusan sepihak Teheran membentuk badan pengatur lalu lintas di selat tersebut. Sementara itu, Iran pada Kamis memakamkan Pemimpin Tertingginya yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei, di tempat suci di Mashhad. Putranya, Mojtaba Khamenei, yang juga terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, belum muncul di publik, menimbulkan spekulasi tentang masa depan kepemimpinan Iran.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz berdampak langsung pada harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Sebagai negara pengimpor minyak, fluktuasi harga akibat konflik dapat membebani anggaran dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini untuk mengantisipasi dampak pada subsidi energi dan kebijakan harga BBM. Selain itu, peran Qatar sebagai mediator bisa menjadi contoh diplomasi yang relevan bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah perundingan yang dilanjutkan mampu menghasilkan kesepakatan baru yang lebih kokoh, atau justru menjadi ajang saling jual mahal yang memperpanjang siklus kekerasan. Dengan pemimpin baru Iran yang masih misterius dan tekanan politik domestik Trump menjelang pemilu paruh waktu, stabilitas di kawasan Teluk masih jauh dari kata pasti.



