Gangguan Jantung Ringan Sekalipun Bisa Tingkatkan Risiko Demensia, Studi Terbaru Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Jerman menemukan bahwa penurunan fungsi pompa jantung yang sangat kecil sekalipun dapat memicu kerusakan mikroskopis di area otak yang terkait Alzheimer.
- Temuan ini menunjukkan bahwa risiko demensia bisa muncul jauh sebelum gejala gagal jantung atau penurunan kognitif terdeteksi secara klinis.
- Para ahli menekankan pentingnya menjaga kesehatan jantung sebagai langkah preventif terhadap penuaan otak, termasuk melalui kontrol tekanan darah dan gaya hidup sehat.

Penurunan fungsi jantung yang sangat ringan—bahkan yang belum terdiagnosis sebagai gagal jantung—dapat memicu kerusakan mikroskopis di area otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer, demikian temuan studi terbaru yang dipublikasikan di JNeurosci. Riset ini memperkuat bukti bahwa kesehatan kardiovaskular dan otak saling terkait erat, dan bahwa tanda-tanda awal demensia mungkin sudah bisa dideteksi melalui perubahan halus pada jaringan otak.
Studi yang dipimpin oleh Xia Zhang, peneliti doktoral di Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences, Jerman, melibatkan 73 partisipan dari Leipzig Heart Study dengan usia rata-rata 55 tahun. Selama 3,5 tahun, tim peneliti memantau fungsi jantung partisipan—termasuk mereka yang didiagnosis gagal jantung dan yang belum—serta melakukan pemindaian otak untuk melihat perubahan mikrostruktur materi abu-abu. Hasilnya, bahkan partisipan tanpa diagnosis gagal jantung menunjukkan hubungan antara penurunan kecil pada fungsi pompa jantung dengan degradasi jaringan otak di area yang rentan terhadap Alzheimer.
“Otak sangat bergantung pada aliran darah dan pasokan oksigen yang stabil. Jika jantung tidak memompa secara efisien—meski hanya sedikit—otak bisa terpengaruh seiring waktu,” jelas Zhang. Ia menambahkan bahwa temuan ini mengindikasikan kerentanan otak terhadap disfungsi jantung sudah muncul jauh lebih awal dari yang selama ini disadari secara klinis. “Perubahan mikrostruktural ini juga membantu menjelaskan hubungan antara fungsi jantung yang lebih buruk dan penurunan daya ingat di kemudian hari.”
Implikasi dari studi ini cukup besar bagi dunia medis, terutama dalam hal deteksi dini. Zhang menekankan bahwa integritas mikrostruktur materi abu-abu bisa menjadi penanda sensitif untuk perubahan otak sebelum penyusutan nyata atau demensia klinis terjadi. Namun, ia mengingatkan bahwa metode ini masih perlu divalidasi lebih lanjut sebelum bisa digunakan secara rutin. “Mean diffusivity menjanjikan, tetapi belum menjadi penanda diagnostik standar untuk masalah kognitif pada pasien jantung,” ujarnya.
Dua kardiolog yang tidak terlibat dalam studi, Cheng-Han Chen dari MemorialCare Saddleback Medical Center dan Sheng Fu dari Miami Cardiac & Vascular Institute, memberikan perspektif mereka. Chen menilai riset ini menegaskan pentingnya menjaga kesehatan jantung tidak hanya untuk mencegah penyakit jantung, tetapi juga untuk melindungi organ lain, termasuk otak. “Kami sudah lama tahu ada hubungan antara jantung dan otak, tetapi baru sekarang kami bisa mengidentifikasi perubahan patofisiologis spesifik yang menghubungkan keduanya,” katanya. Sementara itu, Fu menambahkan bahwa otak adalah organ akhir yang bergantung pada curah jantung, sama seperti hati atau ginjal. “Yang membedakan, otak lebih sulit diukur dampaknya. Studi ini menekankan perlunya deteksi dini disfungsi sistolik bahkan sebelum pasien merasakan gejala.”
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini membawa pesan yang relevan mengingat tingginya prevalensi penyakit kardiovaskular dan demensia di tanah air. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi penyakit jantung terus meningkat, sementara jumlah penderita demensia diperkirakan mencapai 2 juta jiwa pada 2030. Langkah-langkah sederhana seperti kontrol tekanan darah, pengelolaan kolesterol dan diabetes, olahraga teratur, serta pola makan sehat tidak hanya bermanfaat bagi jantung, tetapi juga bagi kesehatan otak jangka panjang. “Menjaga jantung berarti menjaga otak,” tegas Fu.
Ke depan, Zhang berharap studi ini dapat direplikasi pada kelompok yang lebih besar dengan masa tindak lanjut lebih panjang, serta menyertakan biomarker Alzheimer seperti amiloid dan tau. “Kami perlu menguji apakah perubahan otak yang terkait jantung ini independen, tumpang tindih, atau berinteraksi dengan patologi Alzheimer,” ujarnya. Jika terbukti, intervensi dini pada fungsi jantung bisa menjadi strategi baru untuk memperlambat penurunan kognitif dan demensia.



