Di Balik Lapangan Wimbledon: Wasit Boleh ke Toilet, tetapi Tidak Boleh Memesan Makanan
Baca dalam 60 detik
- Wasit Wimbledon diizinkan mengambil jeda toilet saat pertandingan, meski mereka berusaha menghindarinya, dan hanya bisa meminta camilan kecil seperti pisang dibawakan ke kursi.
- Keputusan elektronik Hawk-Eye bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat oleh wasit maupun pemain, memastikan akurasi tanpa intervensi manusia.
- Ball boys dan girls di Wimbledon tidak menerima gaji, melainkan uang saku untuk menutup biaya selama dua minggu, dengan seleksi ketat dari 1.600 pelamar setiap tahun.

Wasit dan ball boys/girls menjadi tulang punggung kelancaran setiap pertandingan di Wimbledon, namun peran mereka kerap luput dari sorotan. Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan penonton adalah apakah wasit bisa meninggalkan kursi tinggi mereka untuk ke toilet atau sekadar memesan makanan. Jawabannya: boleh, tetapi dengan batasan ketat.
Menurut penjelasan All England Club kepada BBC Sport, wasit yang menangani lebih dari satu pertandingan dalam sehari mendapat jeda di antara laga. Jika kebutuhan mendesak muncul saat pertandingan berlangsung, mereka diizinkan mengambil "comfort break", meskipun sedapat mungkin dihindari. Yang menarik, wasit tidak bisa memesan makanan ke kursi mereka; hanya camilan kecil seperti pisang yang boleh dibawakan, dan mereka harus memastikan persediaan air minum cukup sejak awal.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah soal kewenangan wasit terhadap teknologi. Sistem elektronik seperti Hawk-Eye, yang digunakan untuk menentukan apakah bola masuk atau keluar, tidak bisa diganggu gugat oleh wasit maupun pemain. Ini berbeda dengan beberapa turnamen lain di mana wasit masih memiliki hak untuk meninjau ulang. Di Wimbledon, keputusan mesin adalah final, menegaskan komitmen turnamen terhadap akurasi teknologi.
Sementara itu, perangkat iPad atau tablet yang dipegang wasit bukan sekadar aksesori. Perangkat itu menjalankan perangkat lunak manajemen turnamen yang membantu pencatatan skor dan data pertandingan secara real-time. Hal ini memungkinkan wasit fokus pada pengawasan lapangan tanpa harus repot menulis manual.
Beralih ke ball boys dan girls, mereka adalah pelajar dari sekolah-sekolah di sekitar Wimbledon yang terpilih melalui proses seleksi ketat. Setiap tahun, sekitar 1.600 pelajar mendaftar, namun hanya 280 yang diterima. Usia mereka berkisar antara 13 hingga 18 tahun (Year 9 hingga Year 13). Yang menarik, mereka tidak menerima gaji, melainkan uang saku (stipend) untuk menutup biaya transportasi dan kebutuhan selama dua minggu turnamen.
Pelatihan ball boys dan girls dimulai dari Februari hingga Juni, dengan jadwal latihan seminggu sekali. Menjelang babak kualifikasi, mereka menjalani pekan latihan penuh untuk memastikan kesiapan fisik dan pemahaman aturan. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah membawakan tas pemain finalis, meskipun kini pemain diberi pilihan apakah ingin tas mereka dibawakan atau tidak.
Bagi Indonesia, sistem rekrutmen dan pelatihan ball boys/girls di Wimbledon bisa menjadi inspirasi. Turnamen tenis nasional seperti Indonesia Terbuka atau even olahraga besar lainnya dapat mengadopsi model seleksi berbasis sekolah dan pelatihan bertahap untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan. Selain itu, penggunaan teknologi seperti Hawk-Eye dan perangkat lunak manajemen pertandingan bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan akurasi dan profesionalisme wasit, meski tentu membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Wimbledon akan mempertahankan kebijakan tanpa gaji untuk ball boys/girls atau justru beralih ke sistem kompensasi yang lebih layak. Di tengah tekanan global terhadap hak pekerja, termasuk pekerja muda, keputusan All England Club akan menjadi sorotan. Sementara itu, bagi wasit, tantangan terbesar bukanlah soal toilet atau makanan, melainkan menjaga konsentrasi di tengah tekanan pertandingan grand slam yang penuh gengsi.



