Rekening Emas BSI Tembus 1,25 Juta: Strategi Baru Investasi Syariah
Baca dalam 60 detik
- Bank Syariah Indonesia mencatat 1,25 juta rekening emas dalam setahun, didorong oleh layanan transfer emas dan cicilan tanpa DP.
- Inovasi seperti angpau emas dan bonus karyawan dalam bentuk emas menjadi kunci pertumbuhan, mengubah kebiasaan konsumsi menjadi investasi.
- BSI optimistis harga emas akan naik akhir tahun jika ketegangan Iran-AS mereda, memperkuat daya tarik tabungan emas bagi nasabah.

Jumlah rekening emas di PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) menembus angka 1,25 juta dalam setahun terakhir, menandai lonjakan minat masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis logam mulia. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyebut pertumbuhan ini tak lepas dari strategi perseroan yang gencar mempromosikan tabungan emas sebagai alternatif simpanan yang lebih tahan inflasi.
BSI tidak hanya mengandalkan tabungan konvensional, tetapi juga meluncurkan layanan transfer emas yang memungkinkan nasabah mengirimkan emas secara digital. Praktik ini sudah diterapkan internal saat perusahaan memberikan bonus kepada karyawan dalam bentuk emas, bukan uang tunai. "Mereka merasa bonusnya tidak langsung dipakai karena jika dijual sayang," ujar Anggoro dalam acara penandatanganan kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Langkah lain yang tak kalah menarik adalah penggunaan angpau emas saat Lebaran tahun ini. BSI mendorong nasabah memberikan THR dalam bentuk emas yang langsung masuk ke rekening anak-anak. "Kalau angpau uang, biasanya pindah ke ibu. Tapi emas langsung ke rekening anak, jadi lebih awet," jelas Anggoro. Strategi ini dinilai efektif mengedukasi generasi muda tentang investasi sejak dini.
Di sisi lain, BSI juga menggenjot produk cicil emas dengan DP 0% untuk tenor hingga enam tahun. Anggoro mencontohkan, nasabah bisa membeli emas 10 gram hingga 1 kilogram dengan harga saat ini yang dianggap rendah, lalu mencicil dengan jumlah tetap selama lima tahun. "Meski harga emas naik saat pelunasan, cicilannya tetap sama seperti awal. Ini menguntungkan nasabah," terangnya. Produk ini menjadi daya tarik bagi mereka yang ingin memiliki emas fisik tanpa harus membayar lunas di muka.
Kendati harga emas tiga bulan terakhir cenderung mendatar, Anggoro optimistis harga akan kembali menguat pada akhir tahun, terutama jika konflik Iran-AS mereda. "Emas adalah produk investasi yang lebih aman," tegasnya. Bagi nasabah Indonesia, tabungan emas menjadi pilihan bijak di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Ke depan, BSI berencana terus memperluas basis nasabah emas dengan mengintegrasikan layanan ke dalam ekosistem digital perbankan. Pertanyaan yang muncul: mampukah BSI mempertahankan laju pertumbuhan ini di tengah persaingan produk investasi lain seperti reksa dana dan obligasi syariah?



