Jateng Optimalkan Program Speling untuk Percepat Eliminasi Kusta
Baca dalam 60 detik
- Pemprov Jateng memperluas program Speling dan CKG untuk skrining kusta guna menekan angka kasus yang masih tinggi.
- Gubernur Ahmad Luthfi menargetkan deteksi dini melalui kolaborasi kabupaten/kota, dengan data terkini menunjukkan 837 kasus hingga triwulan II 2026.
- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan keterlambatan deteksi sebagai hambatan utama, bukan ketersediaan obat.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengintegrasikan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai ujung tombak skrining penyakit kusta. Langkah ini diambil untuk mempercepat deteksi dini dan mendukung target eliminasi kusta di daerah yang masih menghadapi beban kasus signifikan.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan komitmen tersebut dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 di Jakarta, Jumat (10/7). Dalam forum itu, ia bersama sejumlah gubernur lainnya membacakan deklarasi percepatan eliminasi kusta di wilayah masing-masing. Luthfi menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan, melainkan penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia.
Data terbaru menunjukkan bahwa kasus kusta di Jawa Tengah masih tergolong tinggi. Pada 2025 tercatat 1.541 kasus, sementara hingga triwulan II 2026 sudah ditemukan sekitar 837 kasus. Menurut Luthfi, angka ini justru mencerminkan bahwa deteksi dini di lapangan berjalan cukup efektif, sehingga pengobatan terhadap penyintas dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat deteksi, program Speling yang sudah berjalan akan diperluas dengan menambahkan komponen skrining kusta. Setiap kabupaten/kota diminta mengumpulkan data kuantitatif yang akan diolah di tingkat provinsi sebagai dasar intervensi. Luthfi menekankan bahwa bupati dan wali kota harus diberi target dan didorong melakukan terobosan deteksi dini. "Pemberantasan kusta tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus melalui kerja sama semua pihak," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Penyintas kusta juga dipastikan mendapatkan pengobatan tanpa putus. Rentang waktu pengobatan bervariasi, mulai dari 6 hingga 12 bulan, bahkan ada yang mencapai 24 bulan. Pengobatan yang terputus berisiko membuat penyintas harus mengulang proses dari awal. Karena itu, pemantauan berkelanjutan menjadi bagian penting dari strategi Speling di Jawa Tengah.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa kusta disebabkan oleh bakteri dan sudah tersedia obatnya. Penularannya tidak secepat penyakit virus, sehingga deteksi dini menjadi kunci. "Masalah utama dalam penanganan kusta bukan soal ketersediaan obat, melainkan keterlambatan deteksi. Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya lalu diobati," tandas Budi.
Dengan integrasi program Speling dan CKG, Jawa Tengah berharap dapat menekan angka keterlambatan deteksi dan mempercepat eliminasi kusta. Pertanyaannya, apakah target eliminasi nasional dapat tercapai jika daerah lain belum mengadopsi strategi serupa?



