Italia Menyaksikan Piala Dunia 2026: Penyesalan Kian Dalam, Level Permainan Tak Lebih Baik
Baca dalam 60 detik
- Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, namun performa tim-tim perempat final dinilai tak jauh berbeda dari kemampuan Gli Azzurri.
- Analis sepak bola Italia menilai penampilan di turnamen justru memperkuat argumen bahwa Italia layak bersaing di level tertinggi.
- Kegagalan ini memicu perdebatan tentang sistem kualifikasi dan perlunya reformasi di federasi sepak bola Italia.

Penyesalan Italia kian membara saat menyaksikan gelaran Piala Dunia 2026, karena kualitas permainan tim-tim yang melaju ke perempat final dinilai tidak lebih baik dari skuad Gli Azzurri yang gagal lolos. Hal ini diungkapkan oleh jurnalis sepak bola Italia, Susy Campanale, dalam analisisnya yang menyoroti ironi di balik absennya Italia dari panggung terbesar sepak bola dunia.
Campanale menulis bahwa menonton Piala Dunia 2026 justru memperdalam penyesalan Italia, mengingat tim-tim yang berlaga di fase gugur tidak menunjukkan superioritas yang signifikan. โItalia tidak jauh lebih buruk dari tim-tim di perempat final,โ tulisnya, menekankan bahwa kegagalan lolos lebih disebabkan oleh faktor internal, bukan karena ketimpangan kualitas.
Pernyataan ini memicu diskusi hangat di kalangan penggemar dan analis sepak bola Italia. Banyak yang mempertanyakan efektivitas sistem kualifikasi yang memungkinkan tim-tim dengan performa rata-rata melaju jauh, sementara juara Eropa 2021 justru harus menonton dari rumah. Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun menjadi tamparan keras bagi federasi sepak bola Italia (FIGC).
Dari perspektif Indonesia, kegagalan Italia menjadi pengingat bahwa dominasi di level regional tidak menjamin tiket otomatis ke Piala Dunia. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA dan bersaing di level Asia bisa belajar dari kasus Italia: konsistensi dan adaptasi terhadap perubahan regulasi kualifikasi sangat krusial. FIGC kini berada di bawah tekanan untuk melakukan reformasi, mulai dari pembinaan usia muda hingga pemilihan pelatih kepala.
Campanale juga menggarisbawahi bahwa standar permainan di Piala Dunia 2026 tidak setinggi ekspektasi. Banyak pertandingan yang berjalan alot dengan sedikit kreativitas, sehingga memunculkan pertanyaan apakah absennya Italia benar-benar merugikan turnamen. โJika Italia bermain, mungkin mereka bisa bersaing hingga babak akhir,โ ujarnya, menyiratkan bahwa peluang Italia sebenarnya terbuka lebar.
Ke depan, Italia harus segera bangkit dan memastikan lolos ke Piala Dunia 2028. FIGC perlu mengevaluasi sistem kompetisi domestik dan memberikan ruang bagi pelatih muda untuk mengembangkan taktik modern. Pertanyaan besarnya: apakah Italia akan kembali menjadi kekuatan yang ditakuti, atau justru terus terpuruk dalam lingkaran kegagalan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pastiโpenyesalan kali ini harus menjadi momentum perubahan.



