Skandal Alkohol Pemain Timnas Inggris: Aturan Baru Larang Minum Sehari Sebelum dan Sesudah Laga
Baca dalam 60 detik
- Timnas kriket Inggris menerapkan pedoman perilaku baru yang melarang pemain mengonsumsi alkohol pada H-1, saat, dan H+1 pertandingan.
- Aturan ini dipicu oleh insiden klub malam yang melibatkan Ben Stokes dan Gus Atkinson, yang mengungkap ambiguitas jam malam sebelumnya.
- Kebijakan ini memberikan diskresi kepada pelatih kepala untuk melonggarkan aturan pada momen tertentu, seperti perayaan kemenangan atau akhir seri.

Timnas kriket pria Inggris kini dilarang keras meminum alkohol pada hari sebelum, selama, dan setelah pertandingan. Aturan baru ini merupakan respons atas serangkaian insiden di luar lapangan yang mencoreng citra tim, termasuk kontroversi klub malam yang melibatkan kapten sebelumnya, Ben Stokes, dan rekan setimnya, Gus Atkinson.
Pedoman perilaku yang diperbarui, sebagaimana dilaporkan oleh The Telegraph, menegaskan kembali pemberlakuan jam malam tengah malam setiap hari selama rangkaian pertandingan, baik di kandang maupun tandang. Namun, yang baru adalah rekomendasi tegas untuk tidak mengonsumsi alkohol pada periode kritis di sekitar pertandingan. Jika sebuah pertandingan Test berlangsung lima hari penuh, larangan ini bahkan diperpanjang hingga sehari setelahnya.
Kebijakan ini memberikan kelonggaran. Pelatih kepala Brendon McCullum dan direktur kriket Rob Key memiliki wewenang untuk melonggarkan aturan tersebut jika dianggap perlu. Tujuannya agar pemain tetap bisa merayakan kemenangan atau menjalani tradisi seperti minum bersama lawan di akhir seri Ashes. Contohnya, setelah Tes ketiga melawan Selandia Baru di Trent Bridge, pemain diizinkan minum untuk menandai pensiunnya Stokes dari kriket internasional.
Insiden yang memicu perubahan ini terjadi setelah kemenangan Inggris pada Tes pertama melawan Selandia Baru di Lord's. Stokes dan Atkinson terlihat berada di klub malam London hingga dini hari, dan saat itu seorang anggota staf keamanan tim dipukul oleh pemain rugby Saracens. Akibatnya, kedua pemain dinyatakan tidak tersedia untuk Tes kedua sementara penyelidikan berlangsung.
Direktur kriket Rob Key mengungkapkan bahwa Atkinson tidak menyadari adanya jam malam. Key sempat mengusulkan larangan total alkohol, namun tidak terealisasi. Stokes dan Atkinson akhirnya dibebaskan dari tuduhan kekerasan, tetapi dinyatakan melanggar "kewajiban kontrak tertentu". McCullum kemudian mengakui adanya ambiguitas dalam aturan jam malam dan berjanji akan memperjelasnya.
Aturan baru ini juga melarang pemain minum di tempat umum jika mereka memilih untuk minum di luar periode yang dilarang. Mereka juga sangat tidak dianjurkan minum di tempat pribadi demi persiapan, pemulihan, dan profesionalisme. Selain itu, pemain harus memberi tahu manajemen tim atau petugas keamanan jika berada di luar hotel setelah pukul 22.00, serta dilarang tampil dalam pengaruh alkohol di depan umum atau memposting aktivitas terkait alkohol di media sosial.
Belum jelas apakah pedoman ini hanya berlaku untuk tim senior putra atau juga mencakup tim putri dan program pengembangan. Terkait jam malam, ada periode ketika pemain secara alami meninggalkan kamp, seperti saat jeda panjang antarpertandingan atau saat dilepas ke county. Tidak dijelaskan apakah jam malam tetap berlaku dalam situasi tersebut.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, aturan ini menjadi pengingat bahwa disiplin dan profesionalisme adalah fondasi prestasi olahraga. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, kasus ini relevan dengan upaya membangun budaya sportivitas yang bersih. Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah apakah kebijakan ini cukup efektif mengubah budaya minum yang sudah mengakar di kriket Inggris, atau justru akan memicu resistensi dari pemain yang terbiasa dengan kebebasan di luar lapangan.



