Ketegangan AS-Iran dan Serangan Drone Ukraina Dorong Harga Minyak ke Level Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah global bertahan di level tinggi akibat eskalasi militer AS-Iran dan gangguan pasokan dari Rusia.
- Serangan IRGC ke pangkalan AS di Yordania dan ancaman terhadap Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur energi kritis dunia.
- Di sisi lain, serangan drone Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia telah memangkas kapasitas kilang hingga 81%, memperparah ketatnya pasokan global.

Harga minyak mentah global masih bertahan di zona tinggi pada akhir pekan lalu, dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan pasokan dari Rusia akibat serangan drone Ukraina. Kondisi ini membuat pasar energi terus berada dalam tekanan, meskipun kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi sedikit menahan laju kenaikan.
Brent crude ditutup sedikit turun ke level 76,27 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik tipis ke 72,09 dolar AS. Pergerakan tipis ini mencerminkan dilema pelaku pasar yang harus menimbang risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dengan prospek permintaan yang melemah akibat kebijakan moneter ketat.
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan rudal balistik yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap pusat komando AS di Asia Barat dan Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania. IRGC mengklaim telah menembakkan sepuluh rudal yang berhasil menghancurkan dua fasilitas tersebut. Pemerintah Yordania mengonfirmasi bahwa delapan rudal berhasil dicegat dan dijatuhkan oleh sistem pertahanan udaranya.
Ancaman IRGC tidak berhenti di situ. Mereka juga memperingatkan bahwa upaya AS untuk memengaruhi pelayaran di Selat Hormuz dapat menghambat pembukaan kembali jalur air strategis tersebut. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati selat ini, menjadikannya titik rawan yang setiap saat bisa memicu lonjakan harga. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah mengawal lebih dari 800 kapal dagang dan 380 juta barel minyak mentah melewati selat tersebut sejak awal Mei.
Dari front lain, serangan drone Ukraina terus menghantam infrastruktur energi Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas penyimpanan minyak di Stavropol dan Tver, serta stasiun pompa minyak di Ufa. Menurut laporan Oxford Institute for Energy Studies, serangan tersebut telah mengganggu fasilitas yang mewakili sekitar 81 persen kapasitas kilang Rusia tahun ini, mendorong tingkat pengolahan kilang ke titik terendah dalam 21 tahun. Data menunjukkan pengolahan kilang Rusia turun dari 4,6 juta barel per hari pada Maret menjadi 3,7 juta barel per hari pada Juni.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global berdampak langsung pada beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Sebagai importir minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak akan membengkakkan anggaran subsidi BBM dan listrik, serta menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM bersubsidi jika tren ini berlanjut.
Meskipun faktor geopolitik mendorong harga naik, potensi kenaikan lebih lanjut masih terbatas. Investor khawatir bahwa harga energi yang tinggi akan memicu inflasi, mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, dan pada akhirnya melemahkan permintaan minyak. Pertanyaannya, akankah ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur mereda cukup cepat untuk mengembalikan stabilitas harga, atau justru sebaliknya?



