Pasokan Minyak Global Melonjak 4,1 Juta Barel per Hari pada Juni: IEA
Baca dalam 60 detik
- Badan Energi Internasional mencatat kenaikan pasokan minyak terbesar dalam beberapa bulan pada Juni 2025, didorong pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz.
- Meskipun melonjak, produksi global masih 9,4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang AS-Israel-Iran, dengan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
- IEA merevisi naik proyeksi permintaan minyak 2026, tetapi memperkirakan penurunan tahunan pertama sejak 2020 akibat dampak konflik dan transisi energi.

Pasokan minyak global mencatat lonjakan bulanan tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Juni 2025, naik 4,1 juta barel per hari (bph), seiring pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz yang mendongkrak produksi negara-negara Teluk. Meski demikian, Badan Energi Internasional (IEA) mengingatkan bahwa output masih jauh di bawah level sebelum pecahnya perang AS-Israel-Iran karena gangguan keamanan yang belum sepenuhnya teratasi.
Dalam laporan pasar minyak terbarunya yang dirilis Jumat, IEA menyebutkan bahwa produksi minyak global pada Juni tetap sekitar 9,4 juta bph lebih rendah dibandingkan periode pra-konflik. Lonjakan pasokan terutama berasal dari negara-negara Teluk yang menambah sekitar 3,5 juta bph setelah kesepakatan kerangka kerja antara Amerika Serikat dan Iran membuka kembali jalur ekspor. Namun, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz masih terjadi secara sporadis akibat kekhawatiran keamanan dan ketergantungan pada pengawalan angkatan laut AS, sehingga produksi regional masih 11,4 juta bph di bawah level sebelum perang.
Produksi kelompok OPEC+ meningkat sekitar 2,45 juta bph pada Juni menjadi 38,39 juta bph. Arab Saudi menyumbang kenaikan terbesar, sekitar 900.000 bph, disusul Kuwait dengan 630.000 bph. Sementara itu, produksi dari negara-negara non-OPEC+ naik 1,63 juta bph menjadi 60,37 juta bph, dengan Uni Emirat Arab menyumbang lebih dari setengahnya, yakni sekitar 940.000 bph.
IEA memperkirakan pasokan minyak global rata-rata mencapai 102,6 juta bph pada 2025 jika volume transit melalui Selat Hormuz terus pulih. Angka ini direvisi naik 210.000 bph dari perkiraan bulan lalu, meskipun masih mengindikasikan penurunan tahunan sekitar 3,7 juta bph. Badan tersebut memproyeksikan produksi global akan melonjak sekitar 7,5 juta bph menjadi 110,1 juta bph pada 2027.
Di sisi permintaan, IEA merevisi naik proyeksi konsumsi minyak global 2026 sebesar 70.000 bph dari estimasi sebelumnya, didorong pengiriman minyak yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal kedua. Namun, permintaan global diperkirakan turun sekitar 1 juta bph secara tahunan menjadi 103,46 juta bph pada 2026 โ penurunan tahunan pertama sejak 2020 saat pandemi Covid-19 melumpuhkan pasar energi. Pada Mei 2025, permintaan minyak global tercatat 97,9 juta bph, terendah tahun ini, turun 5,3 juta bph dibandingkan periode sama tahun lalu.
Pemulihan permintaan mulai terlihat setelah kesepakatan AS-Iran pada pertengahan Juni yang membuka kembali ekspor minyak melalui Selat Hormuz dan melepas permintaan terpendam di Asia. Harga minyak yang lebih rendah serta prospek ekonomi global yang membaik turut mendorong konsumsi. IEA mempertahankan proyeksi kenaikan permintaan minyak global sekitar 2 juta bph pada 2027, sehingga total konsumsi mencapai 105,47 juta bph.
Bagi Indonesia, dinamika pasokan dan harga minyak global ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap fluktuasi harga minyak dunia berdampak pada anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Pemulihan pasokan dari Teluk dapat menekan harga minyak, meringankan beban fiskal pemerintah. Namun, risiko gangguan di Selat Hormuz masih membayangi, mengingat Indonesia mengimpor sebagian besar minyak mentah dari kawasan tersebut. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan negosiasi administrasi Selat Hormuz dan potensi serangan regional yang belum sepenuhnya berhenti.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah pemulihan pasokan dapat berkelanjutan tanpa adanya kesepakatan komprehensif yang menjamin keamanan jalur pelayaran. Jika negosiasi gagal atau serangan regional kembali meningkat, lonjakan pasokan Juni bisa menjadi anomali sementara, bukan awal tren pemulihan jangka panjang.



