Romario Murka: Ancelotti Harus Diadili Usai Brasil Tersingkir di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Legenda Brasil Romario menuntut pemecatan Carlo Ancelotti usai timnas tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia oleh Norwegia.
- Romario mengkritik taktik Ancelotti, termasuk memainkan gelandang Ederson sebagai bek sayap, dan menilai pelatih asing mendapat perlakuan berbeda dari media.
- Kekalahan ini memicu perdebatan soal masa depan Ancelotti dan standar ganda dalam menilai pelatih asing versus lokal di Brasil.

Legenda sepak bola Brasil, Romario, melontarkan kritik pedas terhadap pelatih timnas Brasil, Carlo Ancelotti, usai kekalahan mengejutkan di babak 16 besar Piala Dunia dari Norwegia. Dalam pernyataan yang dikutip Sky Sport Italia, Romario bahkan menyarankan agar pelatih asal Italia itu dibawa ke pengadilan atas kegagalan yang dinilainya sebagai aib.
Kekalahan Brasil dari Norwegia menjadi yang pertama kalinya Selecao tersingkir di fase gugur awal sejak Piala Dunia 1990. Publik Brasil, termasuk Romario, merasa geram dengan gaya permainan yang ditampilkan Ancelotti. Romario menilai pelatih berusia 65 tahun itu tidak layak mempertahankan kursinya.
โDia tidak bisa tetap menjadi pelatih kepala Brasil,โ ujar Romario. โJika saya yang memimpin federasi, saya akan masuk ke ruang ganti, menyuruhnya pergi, dan merobek kontraknya saat itu juga. Pertandingan melawan Norwegia adalah sebuah aib. Saya bahkan akan membawanya ke pengadilan. Lalu kita lihat apa yang terjadi, tapi dia tidak boleh bertahan.โ
Romario secara spesifik menyoroti keputusan taktik Ancelotti yang dinilainya membingungkan. Ia menyoroti keputusan mengganti Bruno Guimaraes dan memainkan Ederson sebagai bek sayap, sebuah posisi yang tidak lazim bagi gelandang Manchester City itu. โSaya bahkan tidak mengerti apa yang dia coba lakukan di lapangan,โ kata Romario. โDia mengganti Bruno Guimaraes dan menempatkan Ederson di sisi sayap. Dia melakukan itu karena tidak memanggil bek sayap lain. Satu bek sayap (Wesley) cedera, dan dia menggantinya dengan gelandang tengah. Saya tahu tidak banyak pilihan, tapi pasti ada seseorang yang lebih baik dari Ederson di posisi itu.โ
Lebih jauh, Romario menyinggung perbedaan perlakuan media terhadap pelatih asing dan lokal. Ia membandingkan nasib Ancelotti dengan pelatih Brasil sebelumnya seperti Dunga, Luiz Felipe Scolari, dan Tite. โKami punya Dunga. Dia kalah, dan dia pergi. Kami punya Luiz Felipe Scolari; dia memenangkan Piala Dunia, jadi dia bertahan. Kami punya Tite. Dia kalah, dia bertahan, lalu dia kalah lagi,โ kata Romario. โSekarang kami punya Ancelotti terkutuk ini, yang telah kalah dan akan terus kalah. Dia membuat banyak kesalahan di Piala Dunia ini, dan tidak satu pun dari kalian di media yang mengatakan sepatah kata pun. Jika dia pelatih Brasil, kalian sudah menghancurkannya sekarang. Tapi karena dia orang asing, tidak ada yang mengatakan apa-apa.โ
Kritik Romario mencerminkan kekecewaan luas di Brasil, di mana ekspektasi terhadap timnas selalu tinggi. Kekalahan dari Norwegia, yang notabene bukan tim unggulan, memicu pertanyaan tentang masa depan Ancelotti. Kontraknya bersama Brasil masih panjang, namun tekanan publik semakin besar. Apakah federasi Brasil akan bertindak tegas atau memberi kesempatan kedua? Satu hal yang pasti: kritik dari legenda seperti Romario tidak bisa diabaikan begitu saja.



