Onitsuka Tiger Buka Toko Terbesar di Tokyo, Sinyal Ekspansi Global Kian Kencang
Baca dalam 60 detik
- Asics resmi membuka flagship store Onitsuka Tiger seluas 1.837 meter persegi di Shinjuku, Tokyo, yang menjual hampir seluruh lini produk termasuk pakaian, tas, dan wewangian.
- Pertumbuhan penjualan Onitsuka Tiger melesat 43% pada 2025 berkat permintaan turis asing, mendorong Asics memisahkan merek ini sebagai anak usaha tersendiri.
- Setelah toko di Tokyo dan Nagoya, Onitsuka Tiger berencana kembali ke pasar AS pada Februari 2027, membuka peluang bagi pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Asics Corp., raksasa alas kaki asal Jepang, resmi membuka gerai flagship Onitsuka Tiger terbesarnya di kawasan Shinjuku, Tokyo, Kamis (10/7). Menempati bangunan empat lantai dengan luas total 1.837 meter persegi, toko ini menjual hampir seluruh produk Onitsuka Tiger—mulai dari sepatu, pakaian, tas, hingga wewangian—dan menjadi barometer ambisi ekspansi global merek tersebut.
Gedung baru yang berlokasi di pusat perbelanjaan dan hiburan Shinjuku ini tidak sekadar tempat berbelanja. Di lantai mezanin, pengunjung dapat menikmati "area hiburan" berupa mesin penjual kapsul berisi kaus dan sepatu edisi khusus. Langkah ini menunjukkan upaya Asics menciptakan pengalaman ritel yang lebih interaktif, menyasar generasi muda yang gemar berburu barang eksklusif.
Pembukaan flagship ini menambah jumlah gerai Onitsuka Tiger di Shinjuku menjadi empat toko. Namun, yang lebih menarik adalah rencana ekspansi berikutnya: Asics akan membuka gerai di Nagoya pada Agustus mendatang, dan yang terpenting, kembali merambah pasar Amerika Serikat pada Februari 2027 setelah sebelumnya menutup gerai kelolaan langsung di sana. Keputusan ini mengindikasikan kepercayaan diri manajemen terhadap daya tarik merek Onitsuka Tiger di pasar global.
Keputusan strategis Asics memisahkan Onitsuka Tiger sebagai anak usaha yang sepenuhnya dimiliki, yang diumumkan pada Juni lalu, menjadi kunci percepatan pertumbuhan. Langkah ini memungkinkan Onitsuka Tiger bergerak lebih lincah dalam pengambilan keputusan, mulai dari pengembangan produk hingga strategi pemasaran. Menurut analis industri ritel, pemisahan ini juga memudahkan Onitsuka Tiger menjalin kemitraan atau bahkan mencari investor strategis di masa depan.
Pertumbuhan penjualan Onitsuka Tiger yang mencapai 43% pada 2025 tidak lepas dari lonjakan permintaan turis asing, terutama dari Asia dan Eropa, yang menjadikan Jepang sebagai destinasi belanja utama. Fenomena ini mengingatkan pada tren serupa di Indonesia, di mana merek-merek warisan Jepang seperti Onitsuka Tiger juga mulai dilirik oleh konsumen kelas menengah atas yang mengapresiasi kualitas dan desain retro. Meski belum ada gerai resmi Onitsuka Tiger di Indonesia, produk-produknya sudah tersedia melalui platform e-commerce dan toko konsep multi-merek.
Kehadiran flagship store di Tokyo dan rencana ekspansi ke AS membuka peluang bagi pasar Indonesia. Jika Onitsuka Tiger serius memperkuat jejak global, bukan tidak mungkin Indonesia, dengan populasi muda yang besar dan minat tinggi terhadap sneaker, akan menjadi target berikutnya. Apalagi, merek ini memiliki sejarah panjang yang berakar dari nama pendiri Asics, Kihachiro Onitsuka, dan nama asli perusahaan—sebuah cerita yang kaya akan nilai warisan.
Dengan strategi pemisahan bisnis, ekspansi gerai, dan pertumbuhan penjualan dua digit, Onitsuka Tiger tengah membangun momentum untuk menjadi pemain utama di segmen sneaker premium global. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia akan segera merasakan kehadiran langsung merek ikonik ini?



