Jaringan Narkotika Thailand Terbongkar: Kurir Heroin ke Australia Ditangkap, Polisi Buru Otak di Balik Layar
Baca dalam 60 detik
- Polisi Thailand menangkap Ekkawit, kurir yang mengakui menerima 100.000 baht untuk mengantarkan tas bermotif gajah berisi heroin ke Australia.
- Jaringan ini menggunakan kode nama 'Rin Rin' dan 'Rose Rose' untuk berkoordinasi, dengan modus menitipkan barang ke pramugari.
- Polisi meyakini masih ada otak jaringan yang lebih senior di atas 'Rose Rose', dan penyelidikan diperluas ke seluruh provinsi terkait.

Polisi Thailand menangkap seorang pria yang diduga menjadi perantara dalam penyelundupan heroin yang disembunyikan di dalam tas kain bermotif gajah yang dikirim ke Australia. Penangkapan ini membuka tabir baru jaringan narkotika yang menggunakan pramugari sebagai kurir.
Deputi Komisaris Biro Polisi Metropolitan, Mayor Jenderal Theeradej Thamsuthee, mengonfirmasi bahwa tersangka berinisial Ekkawit ditangkap di Provinsi Phayao pada Kamis malam. Ekkawit diduga mengantarkan heroin ke Uthai, pria berkerudung biru yang telah ditangkap sebelumnya. Uthai kemudian menyerahkan paket itu kepada seorang pramugari untuk dibawa ke Australia.
Menurut penyidik, Ekkawit menggunakan nama obrolan "Rin Rin" untuk menghubungi Uthai dan mengatur pengambilan tas di Distrik Chiang Kham, Phayao. Dalam pemeriksaan awal, Ekkawit mengaku melakukannya demi imbalan 100.000 baht (sekitar Rp45 juta). Ia juga mengklaim telah menjalankan tugas serupa dua atau tiga kali sebelumnya. Lebih lanjut, ia memberikan informasi tentang identitas pengguna nama "Rose Rose", yang diduga menghubungi pramugari bernama Mina untuk menyewa jasanya membawa tas ke Australia.
Polisi menemukan bahwa Ekkawit memiliki hubungan keluarga dengan "Rose Rose". Foto-foto menunjukkan keduanya bepergian bersama, dan "Rose Rose" juga berasal dari Phayao. Ekkawit mengaku membeli tas tersebut di Chiang Mai atas instruksi "Rose Rose". Setelah tas diperoleh, ia akan meninggalkannya di penanda kilometer yang telah ditentukan. "Rose Rose" kemudian mengirimkan rekannya untuk mengambil tas dan menyembunyikan heroin di dalamnya. Ekkawit mengklaim heroin disembunyikan di Laos, namun polisi meragukan pengakuan itu.
Modus operandi jaringan ini cukup terstruktur. Satu atau dua hari setelah heroin ditempatkan, "Rose Rose" akan mengatur pengambilan tas. Rekan "Rose Rose" akan meninggalkan tas dan uang tunai 100.000 baht di penanda kilometer. Ekkawit kemudian mengambil keduanya, lalu mengatur agar Uthai menerima tas tersebut dan membayar Uthai dengan menyetor 60.000 baht melalui mesin setor tunai. Polisi juga menemukan bahwa "Rose Rose" mengarahkan Ekkawit dan rekannya melalui pesan obrolan untuk berkoordinasi dengan orang-orang yang bersedia membawa barang.
Meskipun polisi narkotika telah memperoleh informasi detail tentang profil "Rose Rose" meskipun menggunakan akun anonim, mereka tidak menganggapnya sebagai pemimpin jaringan. Polisi meyakini ada organisator yang lebih senior di atas orang ini. Sebelum mengajukan penahanan Uthai, polisi memeriksanya lebih lanjut. Uthai mengaku telah melakukan pekerjaan itu lima atau enam kali, namun penyidik tidak yakin karena mereka percaya pengakuannya telah dilatih dengan hati-hati sebelum penangkapan. Polisi juga menemukan bahwa Uthai telah menyewa kamar di Provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya setidaknya selama lima atau enam bulan, dan meyakini ia mungkin telah melakukan pekerjaan itu lebih sering dari yang diakuinya.
Kasus ini menjadi pengingat akan modus penyelundupan narkoba yang melibatkan kurir tak terduga, seperti pramugari. Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat posisi geografis yang berdekatan dan potensi jalur penyelundupan serupa. Polisi Thailand kini memperluas penyelidikan untuk menangkap seluruh jaringan, dan pertanyaan besarnya adalah: siapa sebenarnya otak di balik operasi ini, dan apakah jaringan ini memiliki koneksi internasional yang lebih luas?



