Topan Maysak Hantam Kebun Binatang di China: Alpaka dan Zebra Kabur, Ratusan Ular Berhamburan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 100 hewan, termasuk alpaka dan zebra, kabur dari Kebun Binatang Guigang setelah banjir akibat Topan Maysak merusak kandang.
- Topan Maysak menewaskan puluhan orang di Guangxi dan memaksa evakuasi 130.000 warga, sementara kebun binatang meminta bantuan publik mencari hewan yang hilang.
- Di kota Hengzhou, sekitar 800-900 ular melarikan diri dari peternakan yang hanyut, memicu kekhawatiran akan gigitan berbisa dan peningkatan stok antibisa.

Topan Maysak yang melanda China selatan dan tengah pekan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu kekacauan di Kebun Binatang Guigang, Provinsi Guangxi. Setidaknya 100 ekor hewan, termasuk alpaka, babi mini, dan zebra, berhasil melarikan diri setelah kandang mereka rusak diterjang banjir dan hujan deras yang terus-menerus.
Pihak kebun binatang mengeluarkan imbauan kepada masyarakat pada Rabu (10/7) untuk membantu menemukan hewan-hewan yang kabur. Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan oleh Biro Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata setempat, disebutkan daftar hewan yang hilang mencakup dua ekor rakun Amerika Utara, empat landak, dan 30 ekor merak. Pihak kebun binatang memperingatkan bahwa hewan-hewan tersebut mungkin dalam kondisi ketakutan dan berpotensi agresif. โJika Anda melihat hewan-hewan ini, jaga jarak aman. Jangan mencoba menangkap, mendekati, atau menggoda mereka, karena bisa berbahaya,โ demikian bunyi pernyataan tersebut.
Topan Maysak telah merenggut puluhan nyawa di Guangxi dan memaksa evakuasi sekitar 130.000 orang. Bencana ini juga merusak berbagai fasilitas umum, termasuk kebun binatang yang menjadi salah satu destinasi wisata andalan daerah tersebut. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran tidak hanya bagi keselamatan warga, tetapi juga bagi kelangsungan hidup hewan-hewan yang kini berkeliaran di area pemukiman.
Situasi semakin mencekam ketika video warga desa yang berusaha menangkap ular-ular yang berenang di banjir menggunakan tangan kosong dan jaring menjadi viral di media sosial. Wu Zhi, kepala komite desa setempat, mengungkapkan kepada Red Star News bahwa sekitar 800 hingga 900 ular melarikan diri pada Senin (8/7) setelah sebuah peternakan ular di Kota Hengzhou hanyut terbawa banjir. Pemerintah kota segera meningkatkan cadangan sumber daya medis dan memperluas stok antibisa di rumah sakit setempat, seperti dilaporkan oleh CCTV.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama di tengah musim hujan dan potensi topan yang kerap melanda kawasan Asia Tenggara. Meskipun Indonesia jarang dilanda topan langsung, dampak tidak langsung seperti banjir bandang dan tanah longsor sering terjadi. Kejadian di Guangxi menunjukkan bahwa fasilitas umum, termasuk kebun binatang dan peternakan, harus memiliki rencana darurat yang matang untuk mengamankan hewan dan mencegah risiko bagi masyarakat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pemerintah daerah di China akan menangani dampak jangka panjang dari bencana ini, termasuk pemulihan kebun binatang dan pengelolaan hewan yang masih berkeliaran. Apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur penahan banjir perlu diperkuat untuk mencegah kejadian serupa terulang? Sementara itu, warga di Guangxi masih harus waspada terhadap kemungkinan pertemuan dengan hewan-hewan yang melarikan diri, sementara tim penyelamat terus berupaya menangkap dan mengembalikan mereka ke tempat yang aman.



