Asing Jual Saham Rp290 Miliar di Sesi I, BBCA dan BBRI Paling Dibuang
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat penjualan bersih Rp290,36 miliar pada perdagangan sesi I Jumat, dengan saham perbankan seperti BBCA dan BBRI menjadi sasaran utama.
- Aksi jual terjadi di tengah penguatan IHSG yang naik 0,1%, menunjukkan tekanan asing tidak serta merta menyeret indeks.
- Saham komoditas seperti ADRO dan ELSA justru diburu asing, mencerminkan pergeseran minat ke sektor berbasis sumber daya alam.

Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih di bursa saham Indonesia pada perdagangan sesi I Jumat (10/7/2026), dengan nilai mencapai Rp290,36 miliar di seluruh pasar. Aksi ini menyasar saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, total transaksi asing pada sesi I mencapai Rp3,05 triliun, terdiri dari pembelian Rp1,38 triliun dan penjualan Rp1,67 triliun. Tekanan jual terbesar tertuju pada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang dilepas sebesar Rp85,28 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp74,68 miliar, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp57,66 miliar.
Selain tiga emiten tersebut, asing juga melepas saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp36,00 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp32,43 miliar, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) Rp24,73 miliar, dan PT Astra International Tbk. (ASII) Rp18,34 miliar. Tekanan jual juga membayangi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dengan nilai masing-masing Rp18,04 miliar, Rp16,64 miliar, dan Rp11,26 miliar.
Menariknya, di tengah derasnya aksi jual, saham-saham sektor komoditas justru menjadi incaran asing. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) memimpin daftar beli bersih dengan nilai Rp25,60 miliar, disusul PT Elnusa Tbk. (ELSA) Rp18,43 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp16,43 miliar. Asing juga memburu PT Timah Tbk. (TINS) Rp13,66 miliar dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Rp13,57 miliar. Pola ini mengindikasikan pergeseran preferensi investor asing dari sektor perbankan ke sektor berbasis sumber daya alam yang dianggap lebih prospektif di tengah ketidakpastian global.
IHSG sendiri mampu menguat tipis 6,03 poin atau 0,1% ke level 5.918,47 pada akhir sesi pertama, dengan 405 saham menguat, 208 melemah, dan 171 stagnan. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp4,7 triliun dengan volume 11,53 miliar saham. Penguatan indeks terjadi di tengah dominasi sentimen global, termasuk memanasnya konflik Timur Tengah, peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) soal risiko ekonomi global, dan prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Di sisi lain, pelemahan indeks dolar AS berpotensi menjadi angin segar bagi rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto, sementara Bank Indonesia melaporkan penjualan ritel masih kontraksi secara bulanan meski membaik. Bagi investor Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal untuk mencermati risiko outflow jangka pendek, terutama di saham perbankan yang menjadi tulang punggung indeks. Namun, minat asing pada komoditas bisa menjadi peluang diversifikasi portofolio.
Ke depan, pergerakan asing akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global dan stabilitas geopolitik. Pertanyaan yang mengemuka: akankah aksi jual ini berlanjut atau hanya koreksi sementara di tengah optimisme kebijakan energi domestik?



