Kursi Berbayar di Kansai: Strategi Baru Kereta Jepang Gaet Penumpang dan Tambah Cuan
Baca dalam 60 detik
- Operator kereta di Jepang barat gencar meluncurkan layanan kursi berbayar untuk menjawab permintaan penumpang yang ingin duduk pasti.
- Layanan ini tak perlu izin pemerintah, menjadi sumber pendapatan alternatif di tengah turunnya jumlah komuter pascapandemi.
- Keberhasilan Keihan Electric Railway membuka jalan bagi operator lain, termasuk Kintetsu dan Hanshin, untuk mengadopsi model serupa.

Fenomena baru mewarnai perjalanan kereta komuter di wilayah Kansai, Jepang barat: semakin banyak operator yang menawarkan kursi berbayar dengan jaminan tempat duduk. Langkah ini bukan sekadar menjawab kebutuhan penumpang yang lelah berdiri, tetapi juga menjadi strategi jitu menambah pendapatan di tengah perubahan kebiasaan bekerja.
Pada Juni lalu, Kintetsu Railway Co. meluncurkan layanan bernama "Suwarail" di Jalur Minami Osaka yang menghubungkan Stasiun Osaka dan Stasiun Yoshino di Prefektur Nara. Dengan biaya tambahan 300 yen (sekitar Rp33.000), penumpang bisa mendapatkan kursi terjamin di gerbong standar pada kereta ekspres pulang pergi. Meski baru beroperasi satu kali perjalanan per hari, tingkat okupansi rata-rata dikabarkan sudah di atas 90%.
Keberhasilan ini tak lepas dari langkah perintis Keihan Electric Railway Co. yang memperkenalkan "Premium Car" pada 2017 di jalur Kyoto-Osaka. Gerbong khusus dengan semua kursi reservasi itu langsung mendapat sambutan positif dari komuter, mahasiswa, hingga turis asing. Pendapatan dari biaya reservasi terus meningkat setiap tahun, dan perusahaan menargetkan mencapai 1,4 miliar yen (sekitar Rp154 miliar) pada tahun fiskal 2026.
Tak hanya Kintetsu dan Keihan, operator besar lain seperti West Japan Railway Co. (JR West) dan Hankyu Corp. juga telah memiliki layanan serupa. Hanshin Electric Railway Co. pun berencana memperkenalkannya pada musim semi tahun depan. Di sisi lain, wilayah Kanto sebenarnya sudah lebih dulu mengadopsi model ini. Tobu Railway Co. memulai "TJ Liner" pada 2008 di Jalur Tobu Tojo, menggunakan gerbong dengan bangku panjang yang bisa diubah menjadi kursi berhadapan saat jam sibuk.
Jun Mizutani, profesor asosiasi di Universitas Meiji yang mengkhususkan diri pada ekonomi transportasi, mengidentifikasi tiga faktor utama di balik ekspansi ini. Pertama, kesuksesan Keihan membuktikan adanya permintaan kuat dari penumpang yang "ingin kursi terjamin". Kedua, maraknya kerja jarak jauh pascapandemi membuat jumlah komuter menurun, sehingga biaya reservasi menjadi sumber pendapatan tambahan yang menarik. Berbeda dengan kenaikan tarif, biaya ini tidak memerlukan persetujuan pemerintah. Ketiga, kemudahan reservasi via ponsel pintar turut mendorong adopsi layanan.
Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi bahan pembelajaran. Di tengah kepadatan commuter line Jabodetabek, model kursi berbayar mungkin bisa dipertimbangkan sebagai solusi meningkatkan kenyamanan sekaligus pendapatan operator. Namun, tantangan regulasi dan kesiapan infrastruktur digital perlu dikaji lebih dalam. Pertanyaannya, akankah penumpang di Indonesia bersedia membayar ekstra untuk sekadar duduk? Atau justru model seperti ini hanya akan menimbulkan kesenjangan layanan?



