Film Wuxia-Sains Fiksi Singapura Bersaing di Kompetisi Utama Locarno
Baca dalam 60 detik
- The House On The Moon menjadi film Singapura pertama yang memadukan genre wuxia dan fiksi ilmiah, serta menggunakan teknologi produksi virtual.
- Sutradara Nelson Yeo kembali ke Locarno setelah debutnya Dreaming & Dying meraih dua penghargaan pada 2023.
- Film ini mengadaptasi legenda Chang Er dan Hou Yi, membuka peluang bagi sinema Asia Tenggara di kancah festival internasional.

Film garapan sineas Singapura, Nelson Yeo, berjudul The House On The Moon, resmi terpilih dalam kompetisi utama (Concorso Internazionale) Festival Film Locarno ke-79, memperebutkan piala tertinggi Golden Leopard. Ini menjadi pencapaian langka bagi perfilman Singapura yang untuk pertama kalinya mengirimkan film bergenre wuxia—perpaduan seni bela diri dan fantasi—dengan balutan fiksi ilmiah.
Kembalinya Yeo ke Locarno bukan tanpa alasan. Debutnya, Dreaming & Dying, pada 2023 lalu sukses memboyong dua penghargaan sekaligus: Golden Leopard – Filmmakers of the Present dan Swatch First Feature Award. Kini, ia datang dengan karya yang lebih ambisius. The House On The Moon disebut sebagai film wuxia pertama Singapura sekaligus produksi pertama yang sepenuhnya menggunakan teknologi virtual production. Langkah ini menandai lompatan besar bagi industri film di Asia Tenggara yang umumnya masih bergantung pada teknik konvensional.
Naskah film ini ditulis Yeo bersama Vicki Yang, mengadaptasi legenda klasik Tiongkok tentang dewi bulan Chang Er dan pemanah legendaris Hou Yi. Namun, alih-alih menyajikan kisah tradisional, Yeo menyuntikkan elemen fiksi ilmiah yang membawa cerita ke dimensi baru. Sebagian besar dialog menggunakan bahasa Mandarin, dan dibintangi aktris Singapura Lim Shi An sebagai Chang Er, didukung Akira Huang, Harry Chang, serta aktor Taiwan Lee Kang-sheng.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi cermin potensi sinema Asia Tenggara di panggung global. Selama ini, film-film wuxia identik dengan produksi Tiongkok atau Hong Kong. Kehadiran The House On The Moon membuktikan bahwa negara tetangga mampu bersaing dengan genre yang sama, bahkan dengan sentuhan teknologi mutakhir. Industri film Indonesia, yang tengah bangkit lewat film horor dan drama, bisa menjadikan langkah Singapura sebagai inspirasi untuk berani bereksperimen dengan genre dan teknologi baru.
Dalam pernyataan resminya, Yeo mengaku tak menyangka filmnya bisa kembali ke Locarno. “Beberapa tahun lalu, ini terasa seperti meraih bulan—dan kami berhasil. Saya sangat berterima kasih kepada seluruh kru yang mewujudkan mimpi masa kecil ini,” ujarnya. Antusiasme serupa juga diungkapkan produser Momo Film Co, yang melihat Locarno sebagai panggung tepat untuk memperkenalkan sinema Singapura ke audiens dunia.
Festival Locarno sendiri berdiri sejak 1946 dan dikenal sebagai salah satu festival film tertua di dunia. Tahun ini, kompetisi utama juga diisi film Rehmat karya Gurvinder Singh, Nowhere To Lay My Eyes dari Korea Selatan arahan Hong Sangsoo, Nobody's Violence dari Kanada, serta O Jacare karya Basil da Cunha. Persaingan diprediksi ketat, namun The House On The Moon memiliki keunikan tersendiri sebagai perpaduan budaya Timur dan teknologi modern.
Pertanyaan besarnya, akankah gebrakan ini membuka jalan bagi lebih banyak film Asia Tenggara untuk menembus festival bergengsi? Atau justru menjadi puncak yang sulit diulang? Yang jelas, Locarno tahun ini akan menjadi saksi bagaimana legenda kuno bertemu masa depan di layar perak.



