Paul Gambaccini Umumkan Diagnosis Alzheimer, Tetap Setia di Balik Mikrofon
Baca dalam 60 detik
- Penyiar legendaris Inggris Paul Gambaccini, 77 tahun, mengonfirmasi dirinya mengidap Alzheimer sejak awal 2025.
- Meski menghadapi penyakit degeneratif otak, Gambaccini memilih terus membawakan acara di BBC Radio 2 dan Greatest Hits Radio.
- Pengakuan ini diharapkan mendorong kesadaran publik akan pentingnya deteksi dini demensia, termasuk di Indonesia.

Paul Gambaccini, penyiar radio veteran asal Inggris yang telah menghiasi gelombang udara selama puluhan tahun, mengumumkan bahwa ia didiagnosis mengidap penyakit Alzheimer pada awal 2025. Meski menghadapi kondisi yang serius, pria berusia 77 tahun itu menegaskan akan terus membawakan acara-acara yang ia cintai, termasuk The Paul Gambaccini Collection di BBC Radio 2 dan program-program di Greatest Hits Radio.
Pengumuman ini disampaikan Gambaccini melalui pernyataan resmi pada Jumat (26/7/2025), beberapa pekan setelah rekannya, jurnalis Jon Snow, juga mengungkapkan diagnosis Alzheimer dalam dokumenter Channel 4 berjudul Jon Snow: A Last Big Story. Gambaccini mengutip lirik Freddie Mercury, “You can't turn back the clock, you can't turn back the tide,” sebagai penggambaran sikapnya menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat.
“Tidak bisa dipungkiri ini kondisi serius dengan masa depan yang tidak pasti, tetapi untuk saat ini hidup berjalan normal dan saya terus menyiarkan acara-acara saya,” ujar Gambaccini. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diterima, terutama dari suaminya, Christopher Sherwood, serta Alzheimer’s Society yang mendampingi mereka sejak diagnosis ditegakkan.
Keputusan Gambaccini untuk terus bekerja mendapat apresiasi dari Michelle Dyson, CEO Alzheimer’s Society. Menurut Dyson, diagnosis demensia bukan akhir dari segalanya. “Harapan kami, dengan berbagi cerita, Paul akan mendorong orang lain untuk mengenali gejala dan mencari bantuan lebih awal. Semakin dini diagnosis, semakin besar peluang untuk tetap mandiri dan merencanakan masa depan,” jelasnya.
Di Indonesia, kesadaran akan demensia masih relatif rendah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi demensia di Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 juta jiwa pada 2023, namun banyak kasus tidak terdiagnosis. Cerita Gambaccini dan Snow bisa menjadi pengingat bahwa deteksi dini dan dukungan sosial sangat penting. Di tengah budaya yang kerap menstigma penyakit neurodegeneratif, keterbukaan figur publik seperti mereka perlahan mengubah persepsi masyarakat.
Gambaccini mengakui bahwa perjalanan ke depannya tidak mudah, namun ia memilih untuk fokus pada apa yang bisa dinikmati saat ini. “Saya ingin diberikan ruang untuk terus menyiarkan musik yang saya cintai kepada pendengar yang lebih saya cintai. Inilah hari-hari dalam hidup kita,” katanya. Pertanyaan besarnya, akankah semakin banyak tokoh publik di Indonesia yang berani membuka diri tentang demensia, sehingga stigma perlahan terkikis?



