Intelijen Israel Bocorkan Rencana Baru Iran untuk Bunuh Trump
Baca dalam 60 detik
- Israel memberikan peringatan intelijen baru kepada AS tentang rencana spesifik Iran untuk membunuh Donald Trump.
- Laporan ini muncul di tengah eskalasi serangan udara AS-Iran dan keanehan logistik pesawat kepresidenan Trump.
- Teheran terus membalas dendam atas pembunuhan Jenderal Soleimani pada 2020, meningkatkan risiko konflik terbuka.

Washington, DC – Israel membagikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat pekan ini mengenai rencana baru dan “spesifik” dari Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump. Laporan dari CNN dan Wall Street Journal pada Kamis (9/7) mengungkapkan bahwa peringatan itu berbeda dari ancaman-ancaman sebelumnya karena menyertakan detail operasional yang lebih konkret.
Selama bertahun-tahun, Washington memang menerima “drumbeat stabil” intelijen tentang kemungkinan upaya pembunuhan terhadap Trump. Namun, menurut sumber anonim yang dikutip CNN, informasi dari Israel kali ini bersifat baru dan menunjuk pada plot tertentu. Wall Street Journal menambahkan bahwa intelijen tersebut menggambarkan skema yang “segar”.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Serangan udara balasan dari kedua pihak telah memicu kekhawatiran akan kembalinya perang skala penuh. Trump sendiri, dalam perjalanan pulang dari KTT NATO di Turki, menggunakan pesawat Air Force One lama sementara jet baru pemberian Qatar dikirim terlebih dahulu ke Inggris. Langkah ini memicu spekulasi bahwa pesawat baru itu tidak memiliki fitur keamanan yang memadai, terutama setelah AS meluncurkan serangan baru terhadap Iran yang berbatasan dengan Turki.
New York Times melaporkan bahwa pergantian pesawat dilakukan atas permintaan Dinas Rahasia AS sebagai “tindakan pencegahan keamanan”. Trump, dalam konferensi pers, mengelak menjawab pertanyaan tentang keselamatan, tetapi mengisyaratkan adanya upaya pembunuhan sebelumnya oleh Iran. “Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS – saya. Saya ada di setiap daftar mereka,” ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One.
Teheran sejak lama bersumpah akan membalas dendam atas perintah Trump membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada Januari 2020. Ancaman ini kembali mengemuka di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang kian panas. Bagi Indonesia, eskalasi konflik AS-Iran berpotensi mempengaruhi stabilitas harga minyak dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama impor minyak nasional.
Para analis menilai bahwa peringatan Israel ini dapat memperburuk hubungan AS-Iran yang sudah berada di titik nadir. Jika terbukti benar, Iran akan menghadapi tekanan internasional yang lebih besar, termasuk kemungkinan sanksi baru dari Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, Trump yang tengah bersiap menghadapi pemilihan ulang November mendatang, akan menggunakan isu ini untuk memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tangguh terhadap musuh asing.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah intelijen Israel ini cukup kuat untuk memicu respons militer AS, atau justru akan menjadi alat politik dalam kampanye Trump? Yang jelas, ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan Indonesia perlu waspada terhadap dampak ekonominya.



