Skandal Data Gempa: Chubu Electric Diduga Manipulasi Sejak 2009, Lebih Awal dari Dugaan
Baca dalam 60 detik
- Chubu Electric diduga memanipulasi data ketahanan gempa reaktor Hamaoka sejak 2009, setelah gempa 6,5 SR mengguncang reaktor No.5 melebihi batas desain.
- Praktik ini awalnya dikaitkan dengan pasca-Fukushima, namun sumber menyebut motifnya adalah menghindari perintah perkuatan tambahan agar reaktor bisa dioperasikan kembali.
- Skandal ini memperpanjang penghentian operasi tiga reaktor dan menggerus kepercayaan terhadap proses sertifikasi keselamatan nuklir Jepang.

Perusahaan listrik Jepang, Chubu Electric Power Co., diduga telah memanipulasi data ketahanan gempa untuk pembangkit nuklir Hamaoka jauh lebih awal dari yang diperkirakan, yaitu sejak gempa berkekuatan 6,5 skala Richter mengguncang kawasan Omaezaki pada Agustus 2009. Sumber internal mengungkapkan bahwa reaktor No.5 mengalami guncangan beberapa kali lebih kuat dibanding reaktor lain, bahkan melampaui batas desain yang ditetapkan.
Manipulasi data ini pertama kali terungkap awal tahun ini ketika Chubu Electric mengakui telah memilih data gempa yang menguntungkan untuk reaktor No.3 dan No.4 sejak 2012. Namun, sumber terbaru menyebut praktik serupa sudah dimulai lebih awal, tepat setelah reaktor No.5 otomatis mati akibat gempa 2009. Perusahaan khawatir regulator akan memerintahkan perkuatan tambahan yang mahal dan memperlambat proses restart reaktor.
Menurut sumber, Chubu Electric mengganti kontraktor penghasil data gelombang seismik pada periode yang sama. Kontraktor baru mampu menghasilkan data lebih cepat, menciptakan “kondisi dan motif sempurna” untuk memanipulasi angka. Perusahaan kemudian mulai menghasilkan banyak set data dan memilih hasil yang paling menguntungkan, bukan yang paling representatif seperti yang dilaporkan ke regulator.
Kronologi ini mengindikasikan bahwa Chubu Electric telah memanipulasi data untuk tiga reaktor operasional Hamaoka, bukan hanya dua yang sebelumnya diakui. Temuan ini semakin merusak kredibilitas proses pengawasan keselamatan nuklir Jepang yang sempat dipertanyakan pasca-bencana Fukushima 2011. Apalagi, kompleks Hamaoka terletak di pesisir Pasifik, dekat dengan zona gempa besar yang diprediksi akan terjadi di Palung Nankai.
Dalam laporan internal Maret 2025, Chubu Electric mengakui bahwa sejak 2018 mereka sengaja memilih satu gelombang representatif dan menyesuaikan data lain agar konsisten—bukan memilih dari 20 set data seperti yang dilaporkan. Badan Regulasi Nuklir (NRA) Jepang juga mengungkapkan bahwa manipulasi masih berlangsung bahkan setelah investigasi dimulai pada Mei 2025, berdasarkan informasi dari pihak eksternal.
Bagi Indonesia, skandal ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan independensi regulator nuklir. Indonesia sendiri tengah mempertimbangkan pengembangan PLTN untuk memenuhi target energi bersih. Kasus Chubu Electric menunjukkan bahwa tekanan ekonomi untuk mengoperasikan reaktor dapat mendorong pelanggaran etika dan keselamatan. Kepercayaan publik terhadap pengawas nuklir menjadi fondasi yang tak bisa ditawar.
Chubu Electric, dalam pernyataan resminya, berjanji akan bekerja sama dengan investigasi pihak ketiga. Namun, dengan bukti manipulasi yang terus bermunculan, masa depan reaktor Hamaoka—dan kepercayaan terhadap energi nuklir Jepang—semakin suram. Akankah regulator mampu memulihkan kredibilitas, atau justru skandal ini menjadi pukulan telak bagi industri nuklir global?



