Rumah Satu Lantai Kian Diminati di Jepang: Lebih Praktis, Tak Kalah Mahal
Baca dalam 60 detik
- Permintaan rumah satu lantai di Jepang melonjak drastis, pangsa pasarnya naik dari 8,5% menjadi 23,2% dalam satu dekade.
- Fenomena ini didorong oleh meningkatnya rumah tangga dual-income dan mengecilnya ukuran keluarga rata-rata.
- Pengembang besar seperti Daiwa House dan Takusho-Kaihatsu berebut pasar, dengan target proporsi bungalow hingga 80% dari total produksi.

Di tengah tren penurunan jumlah rumah baru yang dibangun di Jepang, rumah satu lantai atau bungalow justru menunjukkan peningkatan popularitas yang signifikan. Di Chiba, sekitar satu jam perjalanan kereta dari Stasiun Tokyo, sebuah kawasan perumahan satu lantai di dekat Stasiun JR Toke ludes terjual meski dibanderol lebih mahal ketimbang properti di sekitarnya. Dari 50 unit yang ditawarkan pada tahap pertama, semuanya habis, dan kini 77 unit tambahan tengah dibangun di lahan berdekatan.
Data Kementerian Pertanahan Jepang menunjukkan, meskipun total permulaan pembangunan rumah terus menurunโterutama akibat menyusutnya jumlah pembeli rumah pertama kali yang mayoritas berusia 30-anโpangsa rumah satu lantai terhadap total bangunan tempat tinggal setinggi maksimal tiga lantai justru melonjak dari 8,5% pada tahun fiskal 2016 menjadi 23,2% pada tahun fiskal 2025. Angka ini mencerminkan pergeseran preferensi yang cukup dramatis dalam waktu kurang dari satu dekade.
Menurut Aya Sato, kepala senior bagian pemasaran di Daiwa House Industry Co., faktor utama di balik tren ini adalah kemudahan hidup dan perubahan demografi. "Ini soal kemudahan hidup dan ukuran rumah tangga yang lebih kecil," ujarnya. Daiwa House sendiri menangani sekitar 800 unit rumah satu lantai pada tahun fiskal 2020, dan jumlah itu bertambah menjadi lebih dari 1.000 unit pada tahun fiskal 2025โsetara 20% dari total rumah tapak baru yang mereka jual. Bagi keluarga dengan dua pencari nafkah, denah satu lantai memangkas waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan memudahkan pengawasan anak.
Fenomena serupa juga diamati oleh Takusho-Kaihatsu Co., pengembang asal Chiba yang mulai membangun kawasan bungalow sejak 2013. Hingga tahun fiskal 2025, perusahaan telah membangun 404 unit rumah satu lantai, terutama di Prefektur Chiba. Inspirasi sang presiden datang setelah melihat kawasan perumahan satu lantai di Melbourne, Australia. Shinji Tsuchida, kepala divisi pengembangan komunitas perusahaan itu, mengatakan, "Kini ada orang yang mempertimbangkan kondominium tetapi juga tertarik pada rumah satu lantai. Itu sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya." Takusho-Kaihatsu menargetkan proporsi rumah satu lantai mencapai 80% dari total produksi mereka.
Dari sisi konsumen, keunggulan rumah satu lantai tidak hanya pada efisiensi ruang, tetapi juga kenyamanan hidup. Hideyuki dan Satsuki Ozawa, pasangan usia 40 dan 36 tahun, telah tinggal di bungalow sejak Juni 2022. Mereka memuji pencahayaan alami yang melimpah berkat jendela tinggi pada langit-langit miring setinggi 4 meter. "Hal pertama yang dikatakan teman-teman saat berkunjung adalah 'Terang sekali,'" ujar Satsuki. Selain itu, permukaan lantai yang rata memungkinkan robot vacuum membersihkan seluruh rumah tanpa halangan, dan satu unit AC di ruang tamu mampu mendinginkan seluruh rumah secara efisien. Satu-satunya kekurangan yang mereka akui adalah sulitnya membersihkan langit-langit yang tinggi.
Bagi Indonesia, tren ini menawarkan pelajaran menarik. Dengan rata-rata ukuran rumah tangga yang juga cenderung mengecil di kota-kota besar, serta meningkatnya jumlah keluarga dengan dua pencari nafkah, konsep rumah satu lantai bisa menjadi solusi perumahan yang lebih praktis. Namun, tantangan utama adalah ketersediaan lahan yang semakin terbatas dan harga tanah yang tinggi, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Apakah pengembang di Indonesia akan mulai melirik segmen bungalow sebagai alternatif hunian vertikal? Atau justru tren apartemen tetap mendominasi? Jawabannya mungkin bergantung pada kebijakan tata ruang dan insentif fiskal ke depan.



