Kontroversi Hukuman FIFA: Quansah Dihukum Dua Laga, Balogun Bebas Bersyarat
Baca dalam 60 detik
- FIFA menjatuhkan hukuman dua pertandingan kepada bek Inggris Jarell Quansah, sementara penyerang AS Folarin Balogun hanya mendapat skors satu laga yang ditangguhkan.
- Mantan wasit FIFA menilai inkonsistensi sanksi ini merusak kredibilitas badan sepak bola dunia, terutama karena campur tangan politik dari Presiden AS Donald Trump.
- Kasus ini memicu pertanyaan tentang transparansi FIFA dalam menerapkan kode disiplin, dengan implikasi bagi keadilan kompetisi di Piala Dunia.

FIFA kembali menjadi sorotan setelah dua keputusan disiplin yang kontroversial dalam Piala Dunia memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola. Bek Inggris Jarell Quansah dijatuhi hukuman larangan bermain dua pertandingan, sementara penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun hanya mendapat skors satu laga yang kemudian ditangguhkan, meskipun pelanggaran keduanya dinilai serupa.
Quansah mendapat kartu merah pada babak 16 besar saat Inggris mengalahkan Meksiko, setelah wasit melalui tinjauan video menganggap tekel sliding-nya dengan studs terangkat sebagai pelanggaran serius. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan tidak bisa mengajukan banding atas hukuman dua laga tersebut. Sebaliknya, Balogun diusir keluar lapangan pada babak 32 besar saat AS menang atas Bosnia, namun FIFA kemudian menangguhkan sanksi satu pertandingannya berdasarkan Pasal 27 kode disiplin, tanpa memberikan penjelasan publik yang memadai.
Keputusan ini semakin kontroversial setelah terungkap bahwa Presiden AS Donald Trump secara pribadi mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kasus Balogun. Meskipun FIFA membantah adanya campur tangan politik, mantan wasit internasional Keith Hackett menilai organisasi tersebut telah gagal menjaga integritas permainan. "FIFA membiarkan intervensi dari luar oleh presiden," tulis Hackett di media sosial.
Jonas Eriksson, yang menjadi wasit FIFA selama 16 tahun, menyoroti inkonsistensi yang mencolok. Menurutnya, jika Balogun hanya mendapat satu pertandingan, maka Quansah seharusnya juga mendapatkan hukuman yang sama. "Yang diharapkan semua orang dari wasit adalah konsistensi. Pemain A harus mendapat sanksi yang sama dengan pemain B. Ini tidak terjadi pada kasus Quansah dan Balogun," ujar Eriksson kepada Reuters.
Media Inggris dengan cepat membandingkan kedua kasus tersebut. The Independent bahkan memasang judul: "FIFA confirms Jarell Quansah ban just days after Folarin Balogun reprieve." Eriksson menambahkan bahwa penangguhan hukuman Balogun tidak pernah dijelaskan secara memadai, sehingga menimbulkan spekulasi. Belgia sebelumnya juga gagal menggugat kelayakan Balogun sebelum pertandingan babak 16 besar melawan AS, namun FIFA tetap bungkam.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan konsistensi dalam penegakan aturan sepak bola. PSSI dan klub-klub Indonesia yang kerap berhadapan dengan keputusan wasit kontroversial di level Asia dapat belajar bahwa tekanan politik dan kurangnya kejelasan prosedur disiplin dapat merusak kepercayaan terhadap kompetisi. FIFA perlu memperbaiki komunikasi publiknya agar tidak menimbulkan persepsi ketidakadilan, terutama di turnamen sebesar Piala Dunia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah FIFA akan merevisi mekanisme banding dan sanksinya untuk menjamin kesetaraan perlakuan. Tanpa langkah konkret, kredibilitas badan sepak bola dunia akan terus dipertanyakan, dan kasus seperti Quansah vs Balogun bisa menjadi preseden buruk bagi keadilan di lapangan hijau.



