Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Tekanan Modal Asing
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,06% ke Rp18.060 per dolar AS setelah sehari sebelumnya menyentuh level terlemah dalam sebulan.
- Pelemahan indeks dolar AS dan penurunan harga minyak mentah menjadi katalis positif, namun eskalasi konflik Timur Tengah masih membayangi.
- Ekonom menilai Indonesia membutuhkan tambahan arus modal asing US$8-11 miliar di semester II-2026 untuk menjaga stabilitas rupiah.

Nilai tukar rupiah memulai perdagangan akhir pekan ini dengan penguatan tipis, membalikkan posisi terlemahnya dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di level Rp18.060 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/7/2026), terapresiasi 0,06% dari penutupan sebelumnya yang merosot tajam 0,44% ke Rp18.070—level terendah sejak awal Juni.
Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,14% ke 100,762 pada pukul 09.00 WIB. Dolar AS melemah untuk sesi kedua berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran. Iran dilaporkan menyerang infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Eskalasi ini mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Meski konflik Timur Tengah memanas, harga minyak justru turun dari puncaknya. Minyak mentah AS berada di US$71,57 per barel dan Brent di US$75,72 per barel. Pasar mulai mengkhawatirkan bahwa inflasi tinggi akibat kenaikan harga energi dapat menekan pertumbuhan global, sehingga permintaan minyak berpotensi melambat. Di sisi lain, investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve periode 16-17 Juni—rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh—yang menunjukkan kekhawatiran inflasi masih meningkat. Sejumlah pejabat bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga segera, meskipun peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan 28-29 Juli turun menjadi 26,2% dari 31% sebelumnya.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengingatkan bahwa Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang signifikan untuk memperkuat neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar. Menurutnya, diperlukan peningkatan posisi investor asing sekitar US$8-11 miliar pada paruh kedua 2026. "Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Stabilitas rupiah tidak cukup hanya ditopang intervensi pasar atau pengelolaan likuiditas," ujarnya dalam catatan riset, Kamis (9/7/2026).
Fakhrul menambahkan, keputusan investor asing akan sangat bergantung pada konsistensi konsolidasi fiskal, normalisasi imbal hasil obligasi pemerintah, serta kepastian arah kebijakan moneter. Kombinasi kebijakan fiskal yang kredibel, pasar obligasi yang menarik, dan komunikasi kebijakan yang konsisten menjadi faktor kunci untuk mengembalikan minat asing. Sementara itu, data klaim awal pengangguran mingguan AS yang turun menjadi 215.000—lebih rendah dari perkiraan 218.000—menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih stabil, yang dapat memperkuat dolar AS dalam jangka pendek.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik AS-Iran, keputusan suku bunga The Fed, serta kemampuan Indonesia menarik modal asing di tengah ketidakpastian global. Apakah intervensi Bank Indonesia dan optimisme fiskal cukup untuk menjaga rupiah di bawah Rp18.100, atau tekanan eksternal akan kembali mendorong pelemahan lebih dalam?



