Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Terbang 6% dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI menguat tipis pada Jumat (10/7) namun mencatat kenaikan mingguan signifikan, didorong eskalasi militer antara AS dan Iran.
- Serangan Iran ke infrastruktur AS di Teluk dan ancaman terhadap Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasokan, meski AS tidak menarget infrastruktur energi Iran.
- Di tengah ketegangan, data ekonomi AS dan China memberi sinyal perlambatan permintaan yang membatasi ruang kenaikan harga lebih lanjut.

Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik tipis pada perdagangan Jumat (10/7/2026), namun secara mingguan mencatat lonjakan signifikan—Brent naik sekitar 6% dan WTI menguat 5%—seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam jalur pasokan energi global.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent kontrak September 2026 berada di level US$76,56 per barel, menguat 0,34% dari posisi sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus diperdagangkan di US$72,34 per barel, naik 0,36%. Reli ini terjadi setelah harga sempat tertekan ke level terendah dalam beberapa pekan pada awal Juli, dengan Brent menyentuh US$72 dan WTI US$68 per barel.
Pemicu utama kenaikan adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis (9/7) sebagai balasan atas operasi militer AS di wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan, menambah ketidakpastian di kawasan. Media Iran melaporkan ledakan di beberapa titik, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir.
Konflik yang belum mereda turut menunda pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Selat ini merupakan jalur pelayaran paling vital bagi pasar energi global—sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewatinya. Gangguan di titik ini langsung memicu kekhawatiran akan keamanan pasokan, mendorong harga minyak naik.
Meski demikian, pasar mendapat sedikit kelegaan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan tidak menyerang infrastruktur energi Iran. Analis komoditas senior ANZ, Daniel Hynes, menilai keputusan itu mengurangi kekhawatiran akan terganggunya pasokan dalam skala besar. Trump sendiri menyatakan konflik tidak akan berkembang menjadi perang skala penuh, dan jika terjadi eskalasi, dampaknya diperkirakan berlangsung singkat. Sentimen ini membantu menstabilkan harga di tengah ketegangan.
Dari sisi permintaan, data ekonomi AS menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran turun pekan lalu, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih bertahan meski perekrutan melambat. Hal ini menjaga ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi AS tidak mengalami pelemahan tajam. Sementara itu, China melaporkan inflasi harga produsen (PPI) pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan biaya di tingkat produsen menekan margin perusahaan manufaktur di tengah permintaan domestik yang lemah, sehingga membatasi kemampuan mereka menaikkan harga jual.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan neraca perdagangan. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit subsidi BBM dan LPG, namun juga meningkatkan pendapatan negara dari sektor migas. Pemerintah perlu mewaspadai risiko inflasi impor jika harga terus bertahan tinggi, terutama di tengah tekanan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, perlambatan ekonomi China—mitra dagang utama Indonesia—dapat menekan permintaan ekspor komoditas non-migas.
Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah dan data permintaan global. Jika konflik AS-Iran mereda dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, harga berpotensi koreksi. Namun, jika ketegangan berlanjut atau meluas, bukan tidak mungkin Brent menembus level US$80 per barel. Pertanyaan kuncinya: sejauh mana pasar sudah mendiskon risiko perang penuh, dan apakah ekonomi global mampu menahan lonjakan harga energi lebih lanjut?



