IHSG Menguat, Dua Emiten Bakrie Masuk Radar Rekomendasi
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan ditutup naik 0,67% ke 5.912,44 pada Kamis (9/7), ditopang saham BRPT, BMRI, dan AMMN.
- Investor asing masih mencatat net sell Rp352,33 miliar di pasar reguler, namun likuiditas meningkat dengan transaksi Rp12,08 triliun.
- Dua emiten Grup Bakrie, DEWA dan TUGU, masuk dalam rekomendasi saham hari ini dengan target harga spesifik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren positif pada perdagangan Kamis (9/7) dengan ditutup menguat 0,67% ke level 5.912,44. Momentum ini terjadi di tengah masih derasnya arus keluar modal asing dan meningkatnya aktivitas transaksi di bursa domestik.
Penguatan indeks utamanya didorong oleh kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BRPT, BMRI, dan AMMN. Sementara itu, saham MORA, IMPC, dan BBRI menjadi pemberat pergerakan indeks. Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas sektor berakhir di zona hijau, dengan sektor Basic Industry mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,10%. Sebaliknya, sektor Health menjadi yang terlemah dengan koreksi 1,24%.
Investor asing masih membukukan posisi jual bersih (net sell) sebesar Rp352,33 miliar di pasar reguler dan Rp259,36 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, likuiditas pasar justru meningkat signifikan. Nilai transaksi mencapai Rp12,08 triliun, naik dari Rp10,54 triliun pada hari sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh masuknya dana dari kelebihan pemesanan lima saham IPO senilai total Rp27,91 triliun. Di pasar global, bursa Amerika Serikat juga menguat, dengan Dow Jones naik 0,27%, S&P 500 menguat 0,81%, dan Nasdaq melonjak 1,30%.
Dari sisi aksi korporasi, beberapa emiten mengumumkan langkah strategis. Bangun Kosambi Sukses (CBDK) memperkuat struktur permodalan dua entitas anaknya, Industri Pameran Nusantara (IPN) dan Samudra Mega Utama (SMU), dengan total tambahan modal sekitar Rp103,9 miliar. CBDK menyetor penuh 5,30 juta saham Seri B di IPN senilai Rp90,10 miliar, sehingga modal disetor IPN meningkat menjadi Rp2,65 triliun. IPN juga memperbarui klasifikasi KBLI 2025 dan memperluas bidang usaha ke penyewaan properti, pengelolaan pusat perbelanjaan, pergudangan, serta makanan dan minuman. Sementara itu, modal dasar SMU dinaikkan menjadi Rp39,60 miliar melalui penerbitan 23 ribu saham baru senilai Rp13,80 miliar.
Emiten lain, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) melalui entitas anak DSST Mas Gemilang (DSST) merealisasikan transaksi afiliasi senilai Rp8,54 triliun untuk memperkuat struktur permodalan Bintang Mas Tunggal (BMT) pada 6 Juli 2026. Perseroan menyatakan transaksi ini tanpa benturan kepentingan dan tergolong transaksi material karena nilainya melebihi 20% tetapi tidak melampaui 50% dari total ekuitas per 31 Maret 2026.
Di sektor kesehatan, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) meresmikan Mayapada Hospital Jakarta Timur pada Kamis (9/7) sebagai rumah sakit kedelapan milik perseroan. Fasilitas ini memiliki kapasitas awal 107 tempat tidur dengan nilai investasi sekitar Rp600 miliar, berfokus pada layanan ibu dan anak. SRAJ juga tengah mengkaji pembangunan satu hingga dua rumah sakit baru di Jakarta serta mengembangkan Tower 3 Mayapada Hospital Jakarta Selatan di Lebak Bulus dengan investasi sekitar Rp1 triliun, yang ditargetkan meningkatkan kapasitas menjadi sekitar 450 tempat tidur. Rencana ekspansi juga mencakup pengembangan rumah sakit di Tangerang, Surabaya, serta rumah sakit internasional di KEK Kesehatan Batam yang ditargetkan beroperasi pada 2028, disusul tambahan rumah sakit di Surabaya pada 2029.
Untuk perdagangan hari ini, analis merekomendasikan sejumlah saham dengan level entry dan target harga tertentu. Dua emiten Grup Bakrie, DEWA dan TUGU, masuk dalam radar. DEWA direkomendasikan buy di kisaran 326-330 dengan target harga 336-346 dan stop loss di 1340. TUGU direkomendasikan buy di 1230-1240, target 1255-1270, stop loss 1170. Saham lainnya yang masuk rekomendasi adalah BDMN (buy 3900-3920, target 3980-4050), VKTR (buy 530-540, target 555-565), dan ESSA (buy 550-560, target 575-585).
Dengan masih adanya tekanan jual asing namun likuiditas yang membaik, pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada sentimen global dan realisasi belanja modal korporasi. Apakah penguatan ini dapat berlanjut atau justru akan terbatas oleh aksi ambil untung? Investor perlu mencermati level support dan resistance teknis serta perkembangan aksi korporasi emiten.



