Topan Bavi Mengancam Taiwan dan China: Badai Terbesar dalam 40 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, dengan lebar mencapai 1.000 km dan kecepatan angin 200 km/jam, diperkirakan menjadi siklon tropis terbesar yang menerjang Taiwan sejak 1987.
- China dan Taiwan mengerahkan ribuan personel darurat serta membatalkan ratusan penerbangan, sementara dampak El Nino dikhawatirkan memperparah frekuensi badai.
- Di tengah persiapan, China masih bergulat dengan bencana Topan Maysak yang menewaskan 39 orang dan menyebabkan kerusakan luas di Guangxi.

Topan Bavi, yang membentang selebar 1.000 kilometer—setara jarak Jakarta ke Bali—menerjang perairan timur Taiwan pada Kamis (9/7) dan diprediksi menjadi badai paling dahsyat dalam hampir empat dekade terakhir. Dengan kecepatan angin mendekati 200 kilometer per jam, siklon tropis ini diperkirakan akan menyusuri pesisir utara Taiwan sebelum mendarat di Provinsi Fujian, China timur, pada Sabtu malam.
Otoritas Taiwan telah menempatkan 29.000 personel militer dalam siaga penuh dan memperingatkan potensi curah hujan hingga satu meter di pegunungan utara Taipei. Bandara Internasional Taoyuan mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan pada Sabtu, sementara nelayan di pelabuhan Suao berlindung dengan kapal mereka. "Jangan tertipu cuaca tenang sekarang. Badai seperti ini bisa menjadi yang paling menakutkan," ujar Chen Ming-hui, nakhoda kapal ikan 3 ton, mengenang topan sebelumnya yang menenggelamkan kapal dan merendam kota.
Menurut Biro Cuaca Pusat Taiwan, Bavi adalah badai terbesar berdasarkan ukuran yang menghantam pulau itu sejak 1987. Jason Chang, peramal cuaca setempat, menyebut badai sebesar ini "cukup langka dalam beberapa tahun terakhir." Di seberang Selat Taiwan, China masih berjibaku dengan dampak Topan Maysak yang menewaskan sedikitnya 39 orang dan menyebabkan sembilan lainnya hilang. Di Guangxi, tim penyelamat masih menyisir puing-puing, sementara di Hubei, sisa-sisa Maysak memicu tornado dan banjir besar.
Para ahli mengaitkan meningkatnya intensitas badai dengan perubahan iklim dan fenomena El Nino yang diprediksi muncul tahun ini. "Bavi menghabiskan waktu lama menguat di atas Pasifik terbuka, mengekstrak energi dari lautan hangat dan mengakumulasi kelembapan besar," jelas Xiangbo Feng, peneliti siklon tropis dari Imperial College London. "Saat mencapai daratan, kerusakan bisa menjadi bencana. Perubahan kecil pada lintasan Bavi dapat berdampak signifikan."
Di Jepang, Badan Meteorologi setempat memperingatkan angin kencang, tanah longsor, dan gelombang badai di Prefektur Okinawa pada Jumat dan Sabtu. Japan Airlines dan All Nippon Airways telah membatalkan total 84 penerbangan, memengaruhi hampir 9.400 penumpang. Sementara itu, komunitas di China selatan masih berusaha pulih dari Topan Maysak. Foto-foto yang disiarkan media pemerintah menunjukkan warga dievakuasi melalui jendela lantai dua, sementara drone digunakan untuk mengirimkan bantuan ke daerah terisolasi. Di Kebun Binatang Guigang, tiga singa mati tenggelam dan sekitar 100 hewan—termasuk zebra, landak, dan rakun—dilaporkan hilang.
Bagi Indonesia, meski tidak berada di jalur langsung Bavi, fenomena ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi siklon tropis di kawasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik dan Hindia berpotensi memicu lebih banyak siklon tropis yang dapat memengaruhi cuaca ekstrem di Indonesia, seperti hujan lebat dan gelombang tinggi. Pertanyaannya, seberapa siapkah Indonesia menghadapi musim badai yang semakin tidak menentu?



