Observatorium Publik Pertama Jepang Rayakan Satu Abad, Lahir dari Mimpi Seorang Pengusaha
Baca dalam 60 detik
- Observatorium Kurashiki, yang didanai swasta pada 1926, menjadi pionir fasilitas astronomi terbuka untuk umum di Jepang dan menginspirasi 300 observatorium serupa.
- Didirikan dengan teleskop reflektor buatan Inggris berdiameter 32 cm, observatorium ini menarik 6.000 pengunjung pada tahun pertama operasinya.
- Menandai 100 tahun, pengelola berkomitmen menjadikannya jembatan antara manusia dan bintang untuk abad berikutnya, dengan dukungan program dari JAPOS.

Pada November 2026, Observatorium Kurashiki di Okayama, Jepang, akan menapaki usia satu abad sebagai observatorium astronomi pertama di negeri itu yang dibuka untuk khalayak ramai. Lebih dari sekadar tempat memandangi bintang, fasilitas ini telah menjadi cikal bakal lahirnya sekitar 300 observatorium publik lain yang kini tersebar di Jepang, melayani baik astronom profesional maupun pengamat amatir.
Sebelum 1926, observatorium di Jepang sepenuhnya dikelola negara dan hanya bisa diakses oleh kalangan ilmuwan. Gagasan membuka pintu bagi publik lahir dari Sumiji Hara, seorang pengusaha lokal yang melihat tingginya minat masyarakat terhadap langit. Ia menyuntikkan modal pribadi untuk mendirikan observatorium yang dilengkapi teleskop reflektor buatan Inggris dengan diameter 32 sentimeter—salah satu yang terbesar di Jepang pada masanya.
Antusiasme publik langsung terlihat. Pada 1927, hanya setahun setelah beroperasi, observatorium itu dikunjungi sekitar 6.000 orang. Angka tersebut tergolong luar biasa mengingat populasi Kota Kurashiki saat itu hanya 20.000 jiwa. Menurut Kazuhisa Mishima, kurator Life Park Kurashiki Science Center, pendirian observatorium ini merupakan langkah yang sangat visioner untuk ukuran kota kecil kala itu.
Lokasi Kurashiki di kawasan Laut Pedalaman Seto dinilai ideal karena langitnya yang cerah dan dukungan komunitas astronom amatir yang antusias. Selain itu, hubungan bisnis dengan Kurashiki Spinning Works Co. (kini Kurabo Industries) memudahkan impor teleskop dari Inggris. Observatorium ini terus beroperasi di lokasi yang sama hingga kini, mempertahankan perannya sebagai pusat edukasi astronomi.
Di dalam kompleks observatorium kini terdapat museum yang didedikasikan untuk Minoru Honda, astronom amatir asal Tottori yang terkenal karena menemukan banyak komet dan bintang. Pengunjung juga dapat menikmati kafe yang menyediakan bahan bacaan dan riset karya Honda. Pengakuan atas nilai historis observatorium ini semakin meningkat; pada 2024, Perhimpunan Astronomi Jepang menetapkannya sebagai Situs Warisan Astronomi Jepang dan memberikan penghargaan Pendidikan dan Penjangkauan Publik pada Maret lalu.
Hiroyuki Hara, cicit Sumiji Hara yang kini mengepalai badan pengelola, menegaskan komitmennya untuk menjaga observatorium tetap relevan. "Kami harus menjadikan observatorium ini sebagai tempat yang terus menghubungkan manusia dengan bintang untuk 100 tahun ke depan," ujarnya. Sementara itu, Perhimpunan Observatorium Publik Jepang (JAPOS) tengah menyiapkan program peringatan, termasuk acara pemungutan suara untuk objek langit favorit, guna meningkatkan minat publik terhadap astronomi.
Bagi Indonesia, kisah Observatorium Kurashiki menawarkan pelajaran tentang bagaimana inisiatif swasta dan komunitas dapat mendorong literasi sains. Di tengah minimnya observatorium publik di Tanah Air—hanya segelintir seperti Observatorium Bosscha dan Timau—model pendanaan dan pengelolaan berbasis partisipasi masyarakat seperti di Kurashiki bisa menjadi inspirasi. Apakah Indonesia akan memiliki lebih banyak observatorium publik yang lahir dari mimpi para pengusaha dan pecinta bintang?



