IPO Kuartal II-2026 Bergeliat, WBSA Masih Jawara Kenaikan Harga
Baca dalam 60 detik
- Enam emiten baru mencatatkan saham di BEI pada semester I-2026 dengan total dana terkumpul Rp1,67 triliun, didominasi oleh sektor consumer dan healthcare.
- PT Wahana Baru Sejahtera (WBSA) memimpin kenaikan harga saham hingga 176,55% dari harga IPO, meskipun sempat meroket lebih dari 600%.
- BEI mencatat enam perusahaan dalam pipeline pencatatan, menunjukkan minat IPO masih berlanjut meskipun jumlahnya lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pasar modal Indonesia mulai menunjukkan denyut nadi yang lebih hidup pada kuartal kedua 2026 setelah semester awal berjalan lamban. Meskipun jumlah emiten anyar yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terbatas, variasi kinerja harga saham pasca-IPO memberikan gambaran menarik bagi investor yang mencermati momentum awal pencatatan.
Hingga 8 Juli 2026, enam perusahaan telah resmi tercatat di BEI dengan total dana segar yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,67 triliun. Mereka adalah PT Wahana Baru Sejahtera Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL). Dari keenamnya, WBSA menjadi primadona dengan lonjakan harga paling spektakuler.
Saham WBSA yang melantai pada 10 April 2026 sempat melesat hingga 610,18% ke level Rp1.379 pada 6 Mei lalu. Namun, euforia itu meredup; per 9 Juli, harga sahamnya turun ke Rp625, masih naik 176,55% dari harga IPO. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menekankan bahwa bursa tidak semata-mata mengukur keberhasilan dari besarnya dana yang dihimpun. โKami berupaya mewujudkan pasar modal yang wajar, teratur, dan efisien dengan merespons dinamika bisnis terkini,โ ujarnya pekan lalu.
Di sisi lain, emiten anyar yang baru melantai pada awal Juli mencatat kinerja beragam. JELI yang tercatat pada 7 Juli langsung naik 56% ke Rp1.755 dalam dua hari perdagangan. Namun, JECX yang juga melantai di hari yang sama justru anjlok 15% ke Rp1.660 setelah sempat menguat 50% pada hari pertama. Sementara itu, BACH yang merupakan bagian dari grup Djarum sukses mencatat auto reject atas (ARA) di hari pertama, tetapi gagal bertahan dan hanya naik 24,43% pada hari kedua.
EMMI dan PRDL menutup daftar dengan performa yang lebih moderat. EMMI bergerak volatil dan ditutup turun 9,09% ke Rp500 setelah sempat naik 14,58% di hari pertama. PRDL yang baru melantai pada 10 Juli langsung menyentuh ARA dengan kenaikan 35% ke Rp162. Adapun hari ini, Rans Entertainment Indonesia (RANS) dijadwalkan melantai dengan harga IPO Rp170 per saham.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini mengingatkan bahwa momentum IPO kerap diwarnai spekulasi jangka pendek. Kenaikan WBSA yang sempat fantastis kemudian terkoreksi menunjukkan pentingnya mencermati fundamental perusahaan, bukan sekadar euforia hari pertama. BEI sendiri mencatat masih ada enam perusahaan dalam pipeline, terdiri dari dua perusahaan beraset kecil, satu menengah, dan tiga besar. Sektor consumer cyclicals mendominasi dengan dua emiten, disusul basic materials, consumer non-cyclicals, dan healthcare masing-masing satu hingga dua perusahaan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah geliat IPO ini akan berlanjut sepanjang tahun atau hanya sekadar angin segar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan pipeline yang masih ada, investor patut mencermati sektor-sektor yang akan melantai, terutama healthcare dan consumer, yang kerap menjadi primadona di bursa Tanah Air.



