Prancis Makin Perkasa: Mbappe dan Dembele Bawa Les Bleus ke Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Prancis menjadi tim pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menekuk Maroko 2-0 berkat gol Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele.
- Duet Mbappe (8 gol) dan Dembele (5 gol) menempatkan Prancis sebagai tim dengan lini serang paling tajam, hanya tim kedua dalam 50 tahun terakhir yang memiliki dua pemain dengan 5+ gol di satu edisi Piala Dunia.
- Didier Deschamps, yang mengumumkan ini turnamen terakhirnya, berpeluang membawa Prancis ke final ketiga berturut-turut dan menyegel status sebagai generasi terbaik Les Bleus.

Prancis memastikan diri sebagai tim pertama yang melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Maroko 2-0 di Boston, Kamis (10/7) waktu setempat. Kemenangan ini menegaskan status favorit juara yang disandang Les Bleus sejak turnamen dimulai, sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi enam pertandingan.
Dua gol tercipta dalam rentang enam menit di babak kedua. Kylian Mbappe membuka keunggulan pada menit ke-65 setelah sebelumnya gagal mengeksekusi penalti di babak pertama. Empat menit berselang, gelandang sayap Ousmane Dembele menggandakan keunggulan dengan tendangan terukur yang tak mampu dihalau kiper Maroko. Kemenangan ini membuat Prancis mengoleksi 16 gol sepanjang turnamen, terbanyak di antara semua peserta.
Mbappe kini mengoleksi delapan gol, menyamai catatan Lionel Messi di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Namun, pemain berusia 27 tahun itu unggul dalam hal assist sehingga memimpin perburuan Sepatu Emas. Sementara itu, Dembele telah mencetak lima gol, menjadikannya pemain kedua Prancis setelah Mbappe yang mencapai angka tersebut di Piala Dunia 2026. Menurut data statistik, Prancis hanya tim kedua dalam setengah abad terakhir yang memiliki dua pemain dengan lima gol atau lebih dalam satu edisi Piala Dunia, setelah Brasil pada 2002 (Ronaldo delapan gol, Rivaldo lima gol).
Pelatih Didier Deschamps, yang telah menangani Prancis sejak 2012 dan mengumumkan turnamen ini sebagai yang terakhir, berpeluang membawa timnya ke final ketiga berturut-turut setelah juara 2018 dan runner-up 2022. Mantan gelandang Patrick Vieira, yang turut mengantarkan Prancis juara 1998, menilai skuad saat ini berada di ambang kehebatan. "Ketika Anda melihat skuad dan pemain-pemain menyerang, ini mungkin salah satu yang terbaik. Jumlahnya luar biasa," ujar Vieira kepada ITV Sport.
Prancis yang memulai turnamen di peringkat ketiga dunia, di bawah Argentina (juara bertahan) dan Spanyol (juara Eropa), menunjukkan dominasi luar biasa. Dalam laga melawan Maroko, mereka melepaskan 22 tembakan berbanding 5 milik lawan, dengan satu-satunya tembakan tepat sasaran Maroko terjadi pada menit ke-83. Mantan striker Skotlandia Pat Nevin memuji lini serang Prancis sebagai "yang terbaik, paling terampil, dan paling berbahaya" di turnamen ini.
Jika Spanyol mengalahkan Belgia di perempat final Jumat (11/7), kedua tim akan bertemu di semifinal di Dallas, Selasa (15/7). Mantan kapten Arsenal itu yakin Prancis tidak akan kesulitan menghadapi Spanyol. "Prancis adalah tim yang lebih baik dibanding empat tahun lalu, sementara Spanyol tidak. Saya tidak melihat ada yang bisa menghentikan Prancis melaju ke final," tegas Vieira.
Roy Keane, mantan kapten Manchester United, memperingatkan bahwa meskipun Prancis tampil superior, mereka bukannya tanpa celah. "Mereka memiliki lebih banyak gigi yang bisa dimainkan. Tapi jika ingin mengalahkan Prancis, Anda harus mencetak gol pertama. Jika tidak, mereka akan menghukum Anda," ujarnya. Sementara itu, Nevin mengingatkan agar Prancis tidak lengah. "Mungkin satu-satunya tim yang bisa mengalahkan mereka adalah diri mereka sendiri jika tidak bermain maksimal," katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dominasi Prancis menjadi tontonan menarik sekaligus pelajaran tentang konsistensi pembangunan tim. Dengan kedalaman skuad yang luar biasaโmulai dari Michael Olise, Bradley Barcola, hingga Jean-Philippe MatetaโPrancis menunjukkan bahwa regenerasi pemain bisa berjalan mulus tanpa menurunkan kualitas. Pertanyaan besarnya: akankah Spanyol mampu menjadi batu sandungan, atau justru Prancis yang akan menambah daftar panjang kemenangan mereka menuju gelar ketiga?



