Dana Kuantum Terjebak Aksi Jual Saham AI, Kinerja Terburuk dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Goldman Sachs melaporkan bahwa dana kuantum global kehilangan seperempat keuntungan tahun ini akibat gejolak pasar saham teknologi.
- Aksi jual besar-besaran saham terkait kecerdasan buatan (AI) memicu penurunan leverage hedge fund ke level terendah dalam setahun.
- Regulator global memperingatkan risiko sistemik dari valuasi tinggi sektor teknologi dan peran hedge fund yang semakin dominan.

Kinerja hedge fund berbasis algoritma—yang dikenal sebagai dana kuantum—mengalami kemerosotan paling tajam dalam hampir setahun terakhir, setelah terjebak dalam perdagangan yang ramai di tengah volatilitas pasar yang ekstrem. Menurut catatan Goldman Sachs yang dirilis Rabu (9/7), kelompok manajer sistematis ini telah kehilangan seperempat dari total keuntungan yang mereka raih sejak awal tahun.
Goldman mengungkapkan bahwa imbal hasil dana kuantum kini hanya tersisa 10,8 persen secara year-to-date, turun drastis dari puncak 14,4 persen pada 22 Juni lalu. Kerugian terbesar berasal dari posisi short di tiga segmen pasar yang paling ramai diperdagangkan: saham Amerika Serikat, pasar saham negara maju Asia, dan—dalam skala lebih kecil—Eropa.
Lonjakan volatilitas saham produsen chip pada akhir Juni hingga awal Juli menjadi pemicu utama kekacauan ini. Namun, faktor yang memperparah adalah tingginya tingkat leverage di kalangan investor ritel Korea Selatan, yang memperbesar pergerakan harga saham secara tidak proporsional. Menurut data S&P Global, dana kuantum mewakili sekitar 10 persen dari hedge fund terbesar pada 2025.
Sementara itu, dana fundamental—yang mengandalkan pemilihan saham secara fundamental—juga terkena dampak negatif. Goldman mencatat kelompok ini merosot 2,2 persen pada periode yang sama karena terperangkap dalam perdagangan saham teknologi yang ramai. Meski demikian, secara year-to-date mereka masih mencatat kenaikan 15,5 persen. Menariknya, para manajer dana fundamental disebut telah "secara agresif" meninggalkan posisi terkait kecerdasan buatan (AI), yang sebelumnya menjadi andalan mereka.
Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan regulator global. Bank of England, Bank of Japan, dan Bank for International Settlements (BIS) telah berulang kali memperingatkan valuasi tinggi di sektor teknologi. Saham perusahaan seperti Micron Technology, Intel, dan Marvell Technology tercatat melonjak sekitar 200 persen hanya dalam satu tahun terakhir. Regulator juga menyoroti semakin besarnya peran hedge fund di pasar keuangan yang justru menambah volatilitas dan risiko sistemik.
Bagi Indonesia, gejolak ini memberikan pelajaran berharga. Pasar modal domestik yang mulai banyak diminati investor ritel perlu mewaspadai efek domino dari aksi jual saham teknologi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kiranya perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas leverage dan perdagangan algoritmik yang berpotensi memicu gejolak serupa. Di sisi lain, investor Indonesia yang memiliki eksposur terhadap saham teknologi global atau reksa dana berbasis AI sebaiknya mencermati ulang profil risiko portofolionya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi jual ini hanya koreksi sementara atau awal dari tren bearish yang lebih panjang. Dengan leverage hedge fund yang sudah turun ke level terendah, sinyal ini bisa diartikan sebagai peluang bagi investor yang lebih berani mengambil risiko—atau justru peringatan bahwa pasar masih belum stabil. Yang jelas, era "easy money" dari perdagangan AI tampaknya mulai menemui batasnya.



