Laba Seven & i Melonjak 61% Berkat Pelemahan Yen, Prospek Dinaikkan
Baca dalam 60 detik
- Seven & i Holdings mencatat laba operasional kuartal pertama sebesar 105 miliar yen, naik 61% dari periode sama tahun lalu, didorong margin bensin AS dan pelemahan yen.
- Perusahaan merevisi asumsi kurs yen menjadi 157 per dolar AS, dari sebelumnya 150, yang mengerek prospek laba tahunan 5% menjadi 425 miliar yen.
- Namun, ketidakpastian ekonomi global memaksa Seven & i memangkas proyeksi laba toko swalayan luar negeri sebesar 24 miliar yen untuk semester kedua.

Pelemahan yen yang terus berlanjut menjadi berkah bagi Seven & i Holdings, perusahaan induk jaringan 7-Eleven. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, laba operasional perusahaan melonjak 61% menjadi 105 miliar yen (sekitar Rp 11,3 triliun), terutama berkat volatilitas pasar energi yang meningkatkan margin penjualan bensin di Amerika Serikat.
Kenaikan ini mendorong Seven & i untuk merevisi naik proyeksi laba operasional tahun penuh menjadi 425 miliar yen (sekitar Rp 45,7 triliun), atau 5% lebih tinggi dari estimasi sebelumnya. Angka ini hanya sedikit di atas capaian tahun lalu, namun tetap menjadi sinyal positif di tengah tekanan ekonomi global.
Bagi Jepang, pelemahan yen memang menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, perusahaan multinasional seperti Seven & i diuntungkan karena pendapatan dari luar negeri, terutama AS, menjadi lebih bernilai ketika dikonversi ke yen. Chief Financial Officer Tetsuya Takagi dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa perusahaan mengubah asumsi kurs rata-rata tahun penuh menjadi 157 yen per dolar AS, dari sebelumnya 150 yen. Langkah ini mencerminkan keyakinan bahwa yen akan tetap lemah dalam jangka pendek.
Namun, ketidakpastian ekonomi global memaksa Seven & i untuk lebih hati-hati. Untuk semester kedua, perusahaan memangkas proyeksi laba dari jaringan toko swalayan di luar negeri sebesar 24 miliar yen. Takagi menjelaskan bahwa faktor utama adalah ketidakpastian ekonomi yang dapat menekan penjualan bensin di AS, yang merupakan kontributor signifikan terhadap pendapatan perusahaan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat 7-Eleven pernah hadir di Tanah Air sebelum hengkang pada 2017. Kinerja positif Seven & i menunjukkan bahwa model bisnis minimarket global masih tangguh, meski tantangan di pasar domestik Indonesia berbeda. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga bisa menjadi pelajaran bagi perusahaan lokal yang memiliki eksposur internasional, seperti jaringan ritel modern yang mengimpor barang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Seven & i dapat mempertahankan momentum ini jika harga energi kembali stabil atau yen menguat. Dengan pemangkasan proyeksi di luar negeri, perusahaan tampaknya bersiap menghadapi kemungkinan perlambatan. Namun, dengan fundamental yang kuat dan diversifikasi geografis, Seven & i tetap menjadi pemain kunci di industri ritel global.



