Patten/Heliovaara ke Final Wimbledon Lagi, Siap Rebut Gelar Ketiga
Baca dalam 60 detik
- Pasangan Patten/Heliovaara memastikan tempat di final ganda putra Wimbledon setelah menang straight set atas Kovacevic/Kokkinakis.
- Mereka belum terkalahkan di tie-break sepanjang turnamen, memenangkan enam dari tujuh tie-break yang dihadapi.
- Di final, mereka akan berhadapan dengan Arevalo/Pavic yang sebelumnya mengalahkan mereka di Queen's Club.

Pasangan ganda putra peringkat satu dunia, Henry Patten (Inggris) dan Harri Heliovaara (Finlandia), melangkah ke final Wimbledon untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir. Mereka mengalahkan pasangan Amerika-Australia, Aleksandar Kovacevic dan Thanasi Kokkinakis, dengan skor 7-6 (7-2), 7-6 (10-8) di semifinal, Kamis (10/7). Kemenangan ini memperpanjang rekor impresif mereka di turnamen: memenangkan enam dari tujuh tie-break yang dijalani sepanjang dua pekan.
Patten dan Heliovaara, yang baru berpasangan pada 2024, telah menjelma menjadi kekuatan dominan di sirkuit ganda putra. Setelah merebut gelar juara Wimbledon tahun lalu dan Australian Open 2025, mereka kini berpeluang meraih gelar Grand Slam ketiga secara beruntun. "Perasaan luar biasa. Campuran antara kegembiraan, lega, dan kebahagiaan. Inilah yang kami impikan. Kami sedikit lelah, tapi sangat bahagia," ujar Patten kepada BBC TV usai pertandingan.
Namun, tantangan berat sudah menanti di partai puncak, Sabtu (12/7). Lawan mereka adalah Marcelo Arevalo (El Salvador) dan Mate Pavic (Kroasia), pasangan yang baru saja mengalahkan mereka di final Queen's Club bulan lalu dengan skor 6-2, 6-4. Arevalo dan Pavic bukan lawan sembarangan: Arevalo adalah dua kali juara ganda Prancis Terbuka, sementara Pavic telah memenangkan seluruh empat Grand Slam, termasuk Wimbledon 2021. Mereka juga menyingkirkan juara bertahan Inggris, Julian Cash dan Lloyd Glasspool, di perempat final.
Pertandingan final diprediksi berlangsung ketat. Patten mengakui bahwa gugup pasti akan menghampiri. "Saya rasa kami akan tetap gugup. Tidak bisa dihindari โ ini final di Wimbledon, di Centre Court. Perasaan yang unik. Pasti ada kupu-kupu di perut," katanya. Meski demikian, rekor tie-break mereka yang nyaris sempurna menjadi modal berharga. Dari tiga putaran sebelumnya, mereka selalu menang lewat match tie-break 10 poin.
Bagi publik tenis Indonesia, final ini menarik karena menampilkan dua gaya bermain yang kontras. Patten dan Heliovaara mengandalkan konsistensi dan ketenangan di momen krusial, sedangkan Arevalo dan Pavic lebih agresif dengan pengalaman juara. Pertandingan ini juga bisa menjadi tontonan edukatif bagi petenis muda Indonesia yang ingin mempelajari strategi ganda putra level tertinggi. Sayangnya, belum ada wakil Indonesia yang mampu menembus babak utama ganda putra Wimbledon dalam beberapa tahun terakhir.
Jika Patten dan Heliovaara berhasil mempertahankan gelar, mereka akan mencatatkan diri sebagai salah satu pasangan ganda putra terbaik era modern. Namun, Arevalo dan Pavic jelas tidak akan menyerah mudah. Pertanyaannya, bisakah Patten dan Heliovaara mengatasi tekanan final dan membalas kekalahan di Queen's Club? Atau justru Arevalo dan Pavic yang akan menambah koleksi gelar Grand Slam mereka?



