Arthur Fery: Dari Lapangan Westside ke Sorotan Centre Court Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 114 dunia, Arthur Fery, melaju ke semifinal Wimbledon setelah mengalahkan unggulan kedua Alexander Zverev.
- Fery, yang lahir di Prancis dan besar di Wimbledon, menempuh jalur unik melalui universitas AS dan mengatasi cedera lengan.
- Kisahnya menjadi inspirasi bagi petenis muda Indonesia yang ingin menembus turnamen grand slam tanpa jalur konvensional.

Arthur Fery, petenis Inggris kelahiran Prancis yang kini berusia 23 tahun, sukses menembus semifinal Wimbledon setelah mengalahkan unggulan kedua Alexander Zverev. Kemenangan ini menjadi puncak perjalanan panjang yang dimulai dari lapangan Westside Tennis Club, hanya satu mil dari All England Club, tempat ia pertama kali memegang raket pada usia empat tahun.
Fery, yang saat ini menempati peringkat 114 dunia, tumbuh besar di lingkungan Wimbledon. Ibunya, Olivia, adalah mantan petenis yang pernah berlaga di Prancis Terbuka 1991 dan Piala Fed. Sementara ayahnya, Loic, seorang finansir yang pernah memiliki klub Ligue 1 Lorient. Kombinasi bakat dan dukungan keluarga menjadi fondasi kariernya.
Pelatih pertamanya, Alison Taylor—istri legenda Wimbledon Roger Taylor—mengenali keistimewaan Fery sejak dini. "Footwork-nya luar biasa, ia bisa mengambil bola apa pun dengan keseimbangan sempurna. Sentuhannya halus, selalu suka melakukan drop shot dan maju ke net," ujar Taylor kepada BBC Radio 5 Live. Kemampuan itu menjadi senjata utama Fery di lapangan rumput.
Alih-alih menekuni turnamen junior internasional, Fery dan pelatihnya memilih jalur berbeda: bermain melawan dewasa di Inggris. "Kami membiarkannya mengembangkan permainan dan gairahnya tanpa tekanan peringkat internasional," jelas Craig Veal, pelatih di Sutton Tennis Academy. Strategi itu terbukti jitu—pada usia 16, peringkat juniornya meroket.
Fery kemudian memilih kuliah di Stanford University dengan beasiswa tenis. "Saya belum siap langsung bermain turnamen profesional. Kuliah memberi waktu untuk matang, berteman, dan tetap belajar," katanya. Di Stanford, ia menjadi petenis pertama sejak Bob Bryan yang menduduki peringkat satu tunggal putra sistem universitas AS.
Perjalanan Fery tak mulus. Cedera memar tulang lengan sempat membuatnya frustrasi. Ia menginvestasikan hadiah £115.000 dari Australia Terbuka untuk menyewa fisioterapis penuh waktu dan ahli biomekanik guna memperbaiki servisnya. "Servis baru mengurangi tekanan pada tulang, dan sekarang ia tidak kesakitan lagi," ujar pelatih Jeroen Benard.
Kisah Fery memberikan pelajaran berharga bagi petenis Indonesia. Jalur nonkonvensional—dari klub lokal, universitas asing, hingga grand slam—menunjukkan bahwa bakat dan ketekunan bisa mengatasi keterbatasan peringkat. Federasi Tenis Indonesia bisa mencontoh pendekatan pengembangan jangka panjang tanpa tekanan berlebih pada pemain muda.
Fery akan menghadapi Zverev di semifinal, Jumat (14/7) pukul 13.30 waktu setempat. Jika menang, ia akan menjadi petenis wildcard kedua yang mencapai final Wimbledon. Pertanyaannya, mampukah ia mengulang keajaiban Goran Ivanisevic?



