Inter Gaet Bintang Muda Israel: Khalaili Gantikan Dumfries, Chivu Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan resmi merekrut Anan Khalaili dari Union Saint-Gilloise dengan nilai transfer mencapai €30 juta, menggantikan Denzel Dumfries yang hengkang ke Real Madrid.
- Peran pribadi pelatih Cristian Chivu yang menelepon dari Miami meyakinkan Khalaili untuk memilih Inter di tengah persaingan ketat dari klub Premier League dan Serie A.
- Khalaili, 22 tahun, mencatat tiga gol dalam delapan laga Liga Champions musim lalu, menjadi daya tarik utama bagi Inter untuk merekrutnya.

Inter Milan memenangi perburuan gelandang serang Israel Anan Khalaili setelah negosiasi alot dengan Union Saint-Gilloise. Kesepakatan senilai €25 juta plus bonus hingga €30 juta membuat pemain berusia 22 tahun itu akan terbang ke Milan dalam waktu dekat untuk menjalani tes medis. Ia diproyeksikan mengisi posisi bek kanan yang ditinggalkan Denzel Dumfries yang bergabung dengan Real Madrid.
Keputusan Khalaili memilih Inter tak lepas dari campur tangan langsung pelatih Cristian Chivu. Sang ayah, Madji Khalaili, yang juga mantan pemain profesional, mengungkapkan bahwa Chivu menelepon dari Miami saat negosiasi hampir gagal. “Dia mengatakan kepada Anan bahwa ia akan menjadi pilihan utama di posisi itu,” ujar Madji kepada 103FM. Inisiatif pribadi Chivu itu dianggap sebagai titik balik yang membuat sang pemain yakin bergabung dengan Nerazzurri.
Persaingan merebut Khalaili sangat ketat. Ipswich Town dikabarkan telah mengajukan tawaran €30 juta, sementara Napoli, Atalanta, Newcastle United, dan Crystal Palace juga menunjukkan minat. Namun, ayah Khalaili menegaskan bahwa tawaran Napoli, meskipun pertama kali datang, masih jauh dari permintaan klub Belgia. “Kami menerima permintaan dari Newcastle, Crystal Palace, Ipswich Town yang menawarkan €30 juta, serta Cagliari, Atalanta, dan Napoli. Tawaran formal pertama memang dari Napoli, tapi masih jauh dari memenuhi permintaan di Belgia,” jelasnya.
Khalaili bergabung dengan Union Saint-Gilloise dari Maccabi Haifa pada 2024 dengan biaya €6,5 juta. Musim lalu, ia tampil impresif di Liga Champions dengan mencetak tiga gol dalam delapan penampilan. Statistik itulah yang meyakinkan Inter untuk serius mengejarnya. “Apa yang meyakinkan Inter adalah statistik Liga Champions-nya. Saya yakin ini bukan langkah besar terakhir dalam kariernya, kekuatan dan permainan agresifnya yang membawanya ke titik ini,” tambah Madji.
Bagi sepak bola Indonesia, pergerakan Khalaili menunjukkan bagaimana klub Eropa kini berani merekrut pemain muda dari liga-liga non-top dengan harga tinggi. Fenomena ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia untuk lebih agresif dalam mengembangkan dan memasarkan pemain muda ke Eropa. Keberanian Inter mengambil risiko pada pemain berusia 22 tahun yang baru setahun di Belgia juga menegaskan pentingnya data performa di kompetisi Eropa sebagai alat negosiasi.
Madji Khalaili menggambarkan proses negosiasi yang menegangkan. “Kami mengalami pekan yang mengerikan, Anan hampir melewatkan beberapa sesi latihan, dan negosiasi hampir gagal total. Tapi Chivu mengambil inisiatif dengan menelepon dari Miami,” katanya. Ketenangan Khalaili muda juga mengejutkan sang ayah. “Saya meneleponnya setelah negosiasi selesai dan dia sedang tidur. Saya bilang semuanya beres, dia hanya menjawab: ‘Benarkah? Wow.’ Itulah anak saya.”
Dengan bergabungnya Khalaili, Inter mendapatkan amunisi segar di sisi kanan. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat ia beradaptasi dengan sepak bola Italia dan apakah ia mampu memenuhi ekspektasi sebagai pengganti Dumfries. Jika performa di Liga Champions menjadi patokan, Inter mungkin telah menemukan permata baru yang akan bersinar di Serie A.



